Jumat, 24 Mei 2024 | 05:30 WIB

Gunung Merapi dan Virus Corona, Tanda Kedatangan Sabdo Palon dan Naya Genggong?

Baca juga: Tim Medis Tak Berjuang Sendirian, KAGAMA Bali Dirikan Dapur Umum untuk Penuhi Gizi Mereka

Alumnus Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Filsafat UGM itu memberikan penjelasan dalam salah satu tulisan yang terbit di laman KR Jogja baru-baru ini.

Purwadi mengatakan, Sabdo Palon dan Naya Genggong merupakan pujangga Kerajaan Majapahit.

Keduanya punya kesaktian ilmu kanuragan setelah mempelajari Kitab Pujasastra.

“Kesaktian Sabdo Palon dan Naya Genggong berkat ilmu laku dan jangka jangkah jangkane zaman,” tutur Purwadi.

“Tiap malam sesepuh kerajaan Majapahit ini selalu cegah dhahar lawan guling (berpuasa dan tak tidur).”

“Pada bulan Suro bersama dengan cantrik-cantriknya (pengikut) menjalankan tapa brata (menahan hawa nafsu) di puncak Gunung Lawu,” jelasnya.

Purwadi menambahkan, menjelang bulan Ruwah, mereka melakukan laku tapa kungkum (bertapa dan berendam) di Kali Ketonggo.

Baca juga: 18 Herbal Ini Sudah Teruji Bisa Tingkatkan Daya Tahan Tubuh

Tradisi kepujanggaan yang dilakukan Sabdo Palon dan Naya Genggong ada kaitannya dengan apa yang dilakukan oleh guru spiritual Raja Kediri, Prabu Jayabaya.

Guru spiritual Jayabaya adalah Empu Sedah dan Empu Panuluh yang ternyata masih merupakan eyang dari Sabdo Palon dan Naya Genggong.

Karena itu, kata Purwadi, tak heran jika Sabdo Palon dan Naya Genggong menggelar ruwatan (upacara mengusir kesialan) di daerah Mamenang, Kediri.

Yakni untuk menjaga ketenteraman masyarakat di sana dari letusan Gunung Kelud.

Dijelaskan Purwadi, rasa ayem tentrem bisa diwujudkan dengan lara lapa tapa brata (tirakat dan menahan hawa nafsu).

“Masyarakat Jawa percaya bahwa Gunung Kelud dijaga oleh Dewi Kilisuci, putri raja Airlangga yang berwujud Kedhi atau Wandu,” ujar Purwadi.

“Sabdo Palon dan Naya Genggong menghormati Dewi Kilisuci sebagai pepundhen pidha pusaka (junjungan),” terang pria kelahiran 1971 ini.

Baca juga: Pusat Studi Kebudayaan UGM Pernah Menyimpan Buku Terlarang pada Tahun 80-an


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA