Dokter RSUP Dr. Sardjito Paparkan Peran Spiritualitas Jawa bagi Kesehatan Jiwa

497
Ronny memaparkan, keeratan kita pada alam ini harus 'dipangku', supaya pikiran dan sikap kita terkontrol. Begitu juga dengan alam kita juga harus 'dipangku'.Jika tidak, maka manusia bisa serakah. Manusia adalah spesies yang bisa memakan segalanya. Foto: Kinanthi
Ronny memaparkan, keeratan kita pada alam ini harus 'dipangku', supaya pikiran dan sikap kita terkontrol. Begitu juga dengan alam kita juga harus 'dipangku'.Jika tidak, maka manusia bisa serakah. Manusia adalah spesies yang bisa memakan segalanya. Foto: Kinanthi

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Tajamnya keris yang menjulang ke atas diibaratkan manunggaling kawula Gusti, itu perumpamaan hakikat kehidupan manusia.

Keris dan spiritualitas dalam kesehatan jiwa banyak dibahas dalam Seminar Kesehatan dan Pameram Mahakarya Keris Nusantara, yang mengusung tema Spiritualitas Jawa dalam Menjaga Kesehatan Menuju Rumah Sakit Berbudaya, pada Senin (28/10/2019) di Gedung Diklat RSUP Dr. Sardjito.

Dosen Fakultas Kedokteran UII dr. Sofyan Suli Susilo H.Sp THT mengungkapkan, keris adalah pesan ketauhidan dari para leluhur.

“Apabila kita memahami keris dengan ketauhidan, maka keseimbangan hormonal akan terjaga. Jadi tidak akan sakit,” ujar Sofyan.

Dia menjelaskan, keris bisa menjadi obat, terutama dari segi ikatan emosional bagi yang membawanya.

Baca juga: Keris, Teknologi Canggih yang Menyimpan Pesan Ketauhidan Leluhur

Keris merupakan bagian dari budaya jawa, bisa dibilang memahami keris dengan ketauhidan merupakan bentuk dari spiritualitas Jawa.

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa RSUP Dr. Sardjito Dr. dr. Ronny Tri Wirasto, Sp.KJ mengatakan, manusia hidup karena memiliki keeratan dengan alam yang ditinggalinya dan juga masa lalu yang dialaminya.

“Namun, keeratan kita pada alam ini harus ‘dipangku‘, supaya pikiran dan sikap kita terkontrol. Begitu juga dengan alam kita juga harus ‘dipangku‘. Jika tidak, maka manusia bisa serakah. Manusia adalah spesies yang bisa memakan segalanya,” jelas Ronny.

Itulah sebabnya masyarakat Jogja hidup di daerah amangkurat atau hamengkubuwono.

Kesehatan jiwa,kata Ronny, terwujud salah satunya karena kita bisa amangkurat, artinya mampu mengontrol keeratan kita terhadap alam.

Baca juga: Gelar Pameran Keris, RSUP Dr. Sardjito Ingin Menjadi Rumah Sakit Berbudaya