Kamis, 11 Juli 2024 | 02:08 WIB

Transtoto: Tantangan Globalisasi Adalah Rapuhnya Penjagaan Sumber Daya Hutan dan Kecurangan Manusia

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Dalam upaya globalisasi di segala bidang pembangunan fisik, intelektual ataupun pembangunan moral sumber daya manusia, tantangan utama yang harus diatasi yakni menjaga kelestarian sumber daya hutan sebagai inti lingkungan hidup serta buruknya akhlak, integritas dan nasionalisme sumber daya manusia kita.

Demikian benang merah rangkuman pembicaraan KAGAMA dengan Dr. Ir. Transtoto Handadhari tanggal 29 Mei 2023 di Yogyakarta.

“Secara geografis Indonesia beruntung memiliki sumber daya fisik yang luar biasa yang berada di katulistiwa, di lintasan benua-benua dan samodera besar dengan iklim, lahan, hutan, tumbuhan rempah-rempah, berjejernya gunung berapi yang menyuburkan, gudang oksigen serta sinar matahari yang kaya energi,” sebut Transtoto dalam keterangan persnya, Senin (30/5/2023).

“Dengan jumlah penduduk yang 260 juta orang lebih akan merupakan potensi tenaga kerja serta mesin intelektual yang bisa bermakna dan produktif bagi pembangunan,” tuturnya.

Baca juga: Transtoto: Perlu Diskusi Deforestasi yang Terbuka dan Objektif

Hal penting yang bisa melemahkan bangsa ini menurut Transtoto justru berasal dari kekuatan sumber daya hutan dan alamnya sendiri yang sangat kaya namun dimiliki oleh manusia yang karakter bahkan akhlaknya koruptif, curang, yang boleh dibilang suka mumpungan, bersifat liar dan sulit dikendalikan.

“Saat ini kemakmuran Indonesia menjadi daya tarik bagi bangsa-bangsa di utara dan dunia.”

“Secara geopolitik harus dilindungi oleh pemerintahan yang kuat.”

“Tetapi pembangunan karakter sumber daya manusia-nya yang tersebar di ribuan pulau memerlukan kesamaan idealisme yang bisa saja rapuh,” ungkap Transtoto mengingatkan.

Baca juga: Transtoto: Perhutani Sebaiknya Kelola Sumber Daya Hutan, Bukan Bisnis Kayu

“Pembangunan karakter manusia untuk selalu jujur dan disiplin perlu terus dikembangkannya budaya tanpa kecurangan (no cheating), yang meski sudah dideklarasikan tahun 2013 di Bandung dan Gunungkidul, Yogyakarta, tanggal 22 Februai 2022 tetap sulit dicapai.”

“Intelektualitas bangsa ini juga masih terhambat oleh ketersediaan infrastruktur maupun kesejahteraan sosial ekonomi yang tidak mudah diatasi.”

“Tapi kita harus tetap optimis. Indonesia nampak membaik semakin hijau menjadi bukti bahwa perjuangan kebaikan itu tidak akan sia-sia,” pungkas rimbawan pejuang yang sedang ikut nyaleg membela hutan untuk DPR RI dari Partai Perindo di Blora Raya itu bersemangat. (*)


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA