Salman Al Farisi, Sekjen IORA, Wisudawan Tertua Pascasarjana UGM

95
Salman Al Farisi, Sekretaris Jenderal Indian Ocean Rim Association (IORA), lulus S3 dengan predikat Cum Laude. Foto: Dok. Pribadi
Salman Al Farisi, Sekretaris Jenderal Indian Ocean Rim Association (IORA), lulus S3 dengan predikat Cum Laude. Foto: Dok. Pribadi

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Hari Rabu, 20 Juli 2022, adalah hari bahagia bagi sejumlah mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM).

Perjalanan studi mereka pada program magister, doktor, dan spesialis telah sampai pada titik yang diharapkan, hari wisuda. Di antara para wisudawan Pascasarjana UGM dari berbagai fakultas dan program studi (Prodi) itu ada sosok sepuh yang ijazahnya diserahkan kepada istrinya tercinta, Umi Mahmudah, yang kebetulan sedang berada di Indonesia.

Sementara dia sendiri harus berpuas diri hanya dapat mengikuti perhelatan akademik yang sakral itu lewat saluran streaming YouTube dari Mauritius.

Ia adalah Salman Al Farisi (62 tahun), lulusan S3 yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Indian Ocean Rim Association (IORA), sebuah organisasi internasional yang beranggotakan 23 negara sepanjang pesisir Samudera Hindia dan berkedudukan di Mauritius.

Baca juga: Dosen Psikologi UGM Beri Tips Hadapi Insecure

Salman, yang pernah bertugas sebagai Duta besar RI untuk Afrika Selatan (2018-2022) dan Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab (2012-2014) itu telah mempertahankan disertasinya yang berjudul “Efektivitas Inovasi Kebijakan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia di Singapura, Studi Kasus Smart Embassy KBRI Singapura” pada tanggal 11 April 2022 dan dinyatakan lulus pada 31 Mei 2022 dengan predikat “sangat memuaskan”.

Kesibukan sebagai duta besar dan kemudian berlanjut sebagai Sekjen IORA membuatnya sedikit terhalang untuk menyelesaikan masa kuliah kurang dari lima tahun sehingga tidak dapat meraih berpredikat Cum Laude, meskipun berhasil mendapat nilai sempurna empat dalam Yudisumnya.

“Kelulusan ini bagi saya sudah sangat berarti.”

“Pengalaman di dunia akademik sangat memperkaya pengetahuan dan membangun perilaku berfikir kritis, bereferensi, dan bertanggungjawab” ujar Salman.

Baca juga: Transtoto: Pemanfaatan Hutan untuk Kesejahteraan Rakyat Tak Harus di Jawa

Dia juga mengatakan bahwa sebagai diplomat karier dan praktisi di bidang hubungan luar negeri, ilmu yang diperolehnya dari program studi Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan ini melengkapi rujukan yang sangat berharga bagi langkah-langkah perumusan dan pelaksanaan kebijakan.

Sebaliknya, sebagai pelaku di dunia diplomasi, yang bersangkutan juga dapat berbagai pengalaman dan pengetahuan tentang berbagai praktik kebijakan yang dapat memperkaya khasanah keilmuan.

Terlebih dengan pengalaman tugasnya memimpin sebuah organisasi antarnegara saat ini, model kepemimpinan lintas budaya (cross cultural leadership) dapat menjadi topik kajian menarik, baik aspek keilmuan maupun praktisnya.