Pembangunan PLTS Berbasis Komunitas Jawaban Pemenuhan Kebutuhan Renewable Energi ASEAN

487
Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bisa jadi solusi pemenuhan kebutuhan listrik dengan cara yang ramah Lingkungan dan bebas emisi karbon. Foto: Instagram @syamsul__bahri_
Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bisa jadi solusi pemenuhan kebutuhan listrik dengan cara yang ramah Lingkungan dan bebas emisi karbon. Foto: Instagram @syamsul__bahri_

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Dalam waktu beberapa bulan ke depan, tepatnya di akhir tahun 2022, tongkat estafet Keketuaan Association of South East Asian Nations (ASEAN) akan bergulir dari Kamboja ke Indonesia pada tahun 2023.

Selain itu, Keketuaaan ASEAN-Indonesia akan menjadi gilliran yang kelima kalinya bagi Indonesia dalam memimpin ASEAN, setelah sebelumnya menjadi ketua pada tahun 1976, 2003, dan 2011.

Keketuaan ASEAN-Indonesia 2023 akan menjadi momentum untuk menunjukkan kepempinan Indonesia di tingkat regional, yang juga akan berdampak pada skala global.

Apalagi disaat proses pemulihan ekonomi akibat Pandemik Covid-19, dunia tengah dilanda ketidakpastian akibat perang Rusia-Ukraina, krisis pangan dan energi, resesi keuangan, serta perubahan cuaca, maka Keketuaan Indonesia di ASEAN akan memberikan kontribusi signifikan sebagai salah satu solusi atas permasalahan yang melanda dunia saat ini.

Baca juga: Majapahit Embrio Berdirinya ASEAN, Sebuah Diskursus Meyambut Keketuaan ASEAN-Indonesia 2023

ASEAN merupakan salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, dengan rata-rata pertumbuhan 5 hingga 6 persen per tahun (Sekretariat ASEAN, 2021).

Tingginya pertumbuhan ekonomi ASEAN diiringi dengan tingginya kebutuhan akan energi.

Menurut Badan Energi Dunia atau International Energi Agency (IEA) terdapat korelasi positif antara tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan dengan kebutuhan energi.

Pada tahun 2018, penduduk ASEAN mencapai 656 juta orang, sedangkan tingkat elektrifikasi ASEAN mencapai 89 persen, artinya 89 persen rumah tangga di ASEAN sudah menikmati aliran listrik, sedangkan sisanya sebesar 11 persen masih menngunakan sumber energi lainnya.

Salah satu jenis kebutuhan energi terbesar di ASEAN adalah tenaga listrik.

Baca juga: Gelar JR Show Safety Riding, Upaya Jasa Raharja Cegah Kecelakaan Lalu Lintas

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa permintaan listrik di ASEAN naik 6 persen setiap tahun dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

Berdasarkan laporan Electricity Market dari International Energi Agency (IEA) tercatat pada bulan Desember 2020.

ASEAN Center for Energy (ACE) mencatat tingkat elektifikasi kebutuhan energi ASEAN meningkat selaras dengan pertumbuhan ekonomi sebagai akibat dari membaiknya efek pandemi.

Kebutuhan energi ASEAN pada tahun 2018 mencapai 391,4 MToe.

Baca juga: UGM STP Bersiap Akselerasi Inovasi lewat PRIME SteP Project

Mtoe adalah millions of tonnes of oil equivalent atau jutaan ton yang setara dengan minyak.

Mtoe merupakan satuan energi yang digunakan yang berisi bahan bakar minyak (BBM), secara umumnya dalam skala yang sangat besar.

Sedangkan konsumsi energi di tahun yang sama di ASEAN mencapai 391,4 Mtoe, dan diperkirakan mencapai 474 Mtoe di tahun 2025.

Dalam kurun waktu 13 tahun (2005-2018) kebutuhan energi ASEAN meningkat sebesar 36 persen setara dengan 340 Mtoe.

Baca juga: Menakar Pemekaran Wilayah sebagai Resolusi Konflik

Bahan Bakar Minyak (BBM) mendominasi penggunaan energi di ASEAN pada tahun 2018, yakni mencapai 46 persen atau setara dengan 180 Mtoe.

Diproyeksikan pada tahun 2025, penggunaan sumber kebutuhan energi di ASEAN masih didominasi oleh BBM mencapai 35,1 persen, diikuti oleh batubara (coal) 22,8 persen, gas 21,4 persen, dan energi terbarukan (RE) sebesar 17,7 persen.