Kenangan Prof. Sigit Supadmo Arif tentang Mekanisasi Pertanian: Miskin, Gondrong, dan Kumal

1561

Baca juga: Sebuah Penelitian Ungkap Solusi Atasi Stunting di Indonesia

“Yang lulus menjadi Insinyur mungkin sekitar 10-12 orang. Lima puluh persen hilang, entah pindah atau ke mana,” katanya.

Hal yang dibanggakan Sigit dari teman satu angkatannya adalah rasa persaudaraan yang kuat.

Termasuk kompak dalam hal tolong-menolong. Hal itu membuat para mahasiswa MP ditakuti oleh jurusan lain di FTP, yakni Pengolahan Hasil Pertanian (PHP).

“Maaf kepada anak-anak PHP yang sering kami gangguin. Anak-anak PHP gak berani sama kami yang gondrong-gondrong dan kere kabeh,” seloroh Sigit.

“Kebetulan juga kami banyak yang miskin, sebagian besar dari golongan menengah ke bawah,” sambungnya.

Baca juga: Sempat Galau dan Menangis, Dian Fajarwati Jumpai Keajaiban hingga Jadi Wisudawan Terbaik Biologi UGM

Di sisi lain, kendati ditakuti oleh anak-anak dari jurusan tetangga, para mahasiswa MP banyak yang tidak punya kepercayaan diri.

Status sosial dari keluarga tidak punya, lalu dibalut dengan penampilan yang gondrong dan kumal, membuat para lelaki MP sedikit malu untuk melirik lawan jenis.

“Kami jarang bergaul dengan anak-anak perempuan. Ada rasa inferior karena kami anak dari orang yang tidak punya,” ucap Sigit.

“Nakal, gondrong kabeh, dan kumel. Anak perempuan mana yang mau sama cowo kumal,” kata pakar Teknik Irigasi ini sambil tertawa.

 “Tapi sekarang kalau bertemu kami hanya tertawa (mengingat masa lalu),” pungkasnya. (Tsalis)

Baca juga: Ketua KAGAMA Sumut Resmi Jadi Doktor dan Lulus Cum Laude Usai Bikin Terobosan di Pelindo I