Kenangan Prof. Sigit Supadmo Arif tentang Mekanisasi Pertanian: Miskin, Gondrong, dan Kumal

1561

Baca juga: Tim KKN-PPM UGM Gelar Acara untuk Siapkan Samboja sebaga Ibu Kota Indonesia

Sebab, sebagian staf dosen masih diperbantukan dari Fakultas Teknik, FMIPA, dan Biologi.

“Waktu itu dosennya baru lima orang saja. Sudah dosennya sedikit, kurikulumnya tidak jelas, akhirnya mahasiswanya nakal-nakal,” ujarnya.

“Kami berkeliaran karena kuliah tidak jelas. Kuliah meh ngapa? Paling-paling dholan ning Malioboro (Ngapain kuliah, paling-paling main ke Malioboro),” kenang Sigit.

Sikap nakal mungkin saja lumrah ada di MP angkatan Sigit. Sebab, dari 30 orang mahasiswa MP, sebagian besar adalah lelaki.

“Di angkatan Saya hanya ada tiga orang yang perempuan. STM kabehnakal-nakal kabeh (STM semua, nakal-nakal semua),” kelakar Sigit.

Baca juga: Terobosan Menteri Basuki Tanggulangi Abrasi Pantai

Harapan untuk lebih baik timbul pada 1972 ketika yang mampu naik ke tingkat selanjutnya tidak hanya empat orang, tetapi sekitar 22 orang.

Menurut Sigit, perbaikan itu dimulai bertepatan dengan kepulangan Prof. Moch. Adnan (alm) dari menempuh pendidikan di Amerika Serikat pada 1972.

Saat itu, Prof. Adnan langsung didapuk sebagai dekan FTP.

Walau begitu, MP masih mendapatkan cap sebagai jurusan yang ketat di mata Sigit.

Hal itu karena kurang dari 15 orang di angkatannya yang bisa lulus dan meraih gelar Insinyur (Ir.).

Baca juga: Di Bawah Kepemimpinan Alumni UGM, Pemkab Kutai Timur Pertahankan Penghargaan Ini Empat Kali Berturut-turut