KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Sebagai komunitas anak-anak dan remaja, Tanoker berhasil tumbuh di wilayah Ledokombo, Jember, Jawa Timur. Sebelumnya, kawasan tersebut  dikenal dengan gudangnya kasus kriminal seperti carok, perampokan, dan pencabulan.

Keberhasilan ini tak lepas dari peran Suporahardjo bersama sang istri, Farha Ciciek yang mempelopori perububahan tersebut setelah kembali ke tanah kelahirannya pada 2009.

Kata “Tanoker” berasal dari bahasa Madura yang berarti kepompong. Ada proses panjang yang dilalui seekor ulat kecil sebelum berubah menjadi kupu-kupu cantik.

Anak-anak di tahap tumbuh-kembang, tentu membutuhkan ruang untuk mengekspresikan diri. Tanoker hadir sebagai taman bermain dan ruang belajar bagi anak-anak di desa. Mereka selanjutnya dapat menikmati ragam proses untuk menjelma menjadi kupu-kupu yang indah dan mampu terbang bebas, tidak terkungkung stigma sebagai orang desa.

Baca juga: Tanoker, Memberi Perhatian Bersama bagi Anak yang Tidak Terurus

Pria yang kerap disapa dengan Supo ini menceritakan bahwa Tanoker bermula dari anak-anak yang gemar bermain egrang. Mereka sangat antusias dalam memainkannya hingga kemudian tidak hanya dipakai sebatas alat permainan, tetapi berkembang menjadi tarian egrang.

Hampir semua koreografi dan pilihan musik iringan tarian dikembangkan oleh anak-anak sendiri. “Di sini saya hanya menyiapkan fasilitas dan membuat suasana bermain anak menjadi lebih kondusif. Untuk koreografi dan musik iringan seperti perkusi diatur oleh anak-anak sendiri,” ungkapnya kepada KAGAMA, saat diwawancarai melalui telefon.

Hal terpenting yang menjadi tujuan utama dari Tanoker adalah membangun wilayah menjadi ramah lingkungan dan mendukung tumbuh kembang anak.