Soal Kematian Paus Sperma akibat Sampah Plastik, Dosen Fakultas Biologi UGM Tawarkan Solusinya

220
Paus terdampar.(Foto: detikfinance)
Paus terdampar.(Foto: detikfinance)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Terdamparnya bangkai paus sperma (Physeter macrocephalus) di pesisir Wakatobi pada Senin (19/11/2018) lalu menimbulkan kecemasan, khususnya bagi dosen Ekologi Fakultas Biologi UGM.

Menurut Akbar Reza, S.Si., M.Sc, dosen Laboratorium Ekologi yang fokus di bidang Marine Ecology and Seascape Ecology, kematian tersebut sepantasnya semakin meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencemaran laut yang terjadi dalam skala global.

Kematian tersebut, kata Reza, menurut informasi yang diterima diduga sebagai akibat akumulasi sampah yang terdapat di perut paus tersebut. Tidak diketahui pasti apakah sampah tersebut berasal dari perairan di wilayah Indonesia atau tidak, tetapi menurut Reza, dijadikan pengingat atas komitmen masyarakat dalam manajemen sampah plastik.

Kesadaran mengenai penggunaan sampah plastik sendiri seharusnya ditingkatkan. Upaya pengurangan jumlah penggunaan plastik harus digalakkan dalam berbagai bentuk.

“Plastik yang termakan oleh ikan atau komponen rantai makanan di ekosistem laut, pada akhirnya dapat mempengaruhi rantai makanan global”, ungkapnya pada Sabtu (24/11/2018).

Pencemaran sampah plastik sendiri diakibatkan oleh manusia sebagai produsen, konsumen dan distributor sampah plastik satu-satunya di dunia.

“Sampah plastik yang kita makan pada akhirnya menemukan jalannya untuk kembali ke penciptanya –manusia”, ujar Abay.

Pencemaran tersebut dapat dicegah dengan upaya sederhana yang dimulai dari kesadaran individu, industri dan pemerintah. Menurut Abay, himbauan yang dapat dilakukan yaitu 4R (Refuse, Reduce, Reuse, Recycle)”, ujar Akbar Reza S.Si. M.Sc.

Refuse (/verb), menolak mengawali upaya tersebut yang diharapkan mampu mengurangi penggunaan sampah plastik.

“Pertama kita harus menolak atau menggunakan alternatif lain terlebih dahulu, kemudian kita lanjutkan dengan 3R yang lain”, pungkasnya.

Dalam kesempatan lain Dr. Budi Setiadi Daryono M.Agr.Sc., Dekan Fakultas Biologi UGM yang juga selaku Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), turut mengungkapkan keprihatinan atas kematian paus sperma akibat mengonsumsi dan terdampak sampah plastik di lautan.

KOBI dalam hal ini mengusulkan adanya inovasi di dalam alternatif penggunaan plastik seperti penggunaan bahan kertas yang kuat dan murah.

“Solusi yang paling tepat yaitu adanya inovasi, tidak semata-mata menghentikan penggunaan plastik dalam kegiatan sehari-hari”, ujar Dr. Budi Setiadi Daryono M.Agr.Sc.

Lebih jauh KOBI mendesak pemerintah dan masyarakat untuk segera mengeluarkan peraturan dan kebijakan yang ketat serta tegas terkait produksi, penggunaan dan pengelolaan sampah plastik.

“Pendidikan dan budaya penggunaan bahan material yang biodegradable juga harus diutamakan dan menjadi prioritas utama dalam pengolahan serta pengelolaan konsumsi plastik masyarakat”, tutup Dr. Budi Setiadi Daryono M.Agr.Sc.(TH)