Investasi Sehat Rakyat untuk Negara Kuat

42
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan kontak pertama dengan masyarakat yang memiliki upaya preventif dan promotif. Foto: Instagram @puskesmas_loka
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan kontak pertama dengan masyarakat yang memiliki upaya preventif dan promotif. Foto: Instagram @puskesmas_loka

KAGAMA.CO, SURABAYA – Tema Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-63 pada 12 November tahun ini masih lekat dengan masa “penyembuhan” dari pandemi Covid-19, yakni Bangkit Indonesiaku, Sehat Negeriku, Kita memang masih dalam masa pemulihan. Hampir 160 ribu wafat dan dari 6,5 juta terpapar Covid-19 akibat pandemi yang memuncak 2020-2021 itu.

Kehidupan kita terpukul berat. Patut disyukuri, kini makin kuat tanda untuk bangkit. Masa terburuk saat pandemi pertumbuhan Indonesia minus, yakni -5,32 persen (pertengahan 2020). Namun kuartal tiga 2022 yang baru diumumkan tumbuh mencapai 5,72 persen. Kebangkitan ekonomi ini tentu diharapkan turut membangkitkan semangat untuk terus membangun kesehatan.

Menurut definisi WHO, “health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity.” Sehat adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh, dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.” Kesehatan memang segala-galanya bagi segenap insan. Augusten Burroughs, dalam bukunya Dry, menyebut “When you have your health, you have everything. When you do not have your health, nothing else matters at all.”

Kesehatan juga menjadi bagian dari paradigma pembangunan manusia. Kualitas pembangunan manusia di setiap negara bisa kita lihat secara umum dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) maupun Indeks Modal Manusia atau Human Capital Index (HCI). United Nations Development Programs (UNDP) setiap tahun melakukan pengukuran HDI atau HCI ini untuk melihat pertumbuhan pembangunan manusia global.

IPM Indonesia sesuai data dari UNDP tahun 2021 berada di urutan 114 dari 191 negara. Di antara negara ASEAN kita masih di bawah Singapura (12), Malaysia (62), Thailand (66).

Indeks daya saing dunia lainnya yaitu Indeks Modal Manusia (HCI) yang dikeluarkan World Bank menunjukkan Indonesia menempati posisi 96 dari 174 negara dengan nilai 0.54 dibandingkan negara tetangga kita Singapura (0.88), Vietnam (0.67) dan Malaysia (0.60). Kita harus mengakui perlu mengebut menyusul ketertinggalan itu.

Negara kita memang jauh lebih kompleks, mengurusi manusia jauh lebih banyak dan wilayah lebih luas, serta beragam, ketimbang negara-negara tetangga kita tersebut.

Nilai-nilai di atas menunjukkan bahwa negara tetangga kita yang lebih telah melakukan investasi manusia dengan benar dan mereka mampu. Hal ini bisa menjadi evaluasi atas langkah-langkah yang sudah banyak kita dilakukan untuk pembangunan manusia, utamanya kesehatan (dan pendidikan), agar terjadi percepatan pencapaian.

Kita jelas melihat, bahwa bangsa ini terus melangkah maju untuk membangun kesehatan. Perlu dikenang, bahwa Hari Kesehatan Nasional (HKN) diabadikan dari hari ketika Bung Karno menyemprotkan DDT antimalaria di rumah guru SD bernama Darsono di Kringinan, Kalasan, Yogyakarta, pada 12 November 1959.

Hari itu BK mencanangkan “Komando Pemberantasan Malaria” yang sedang mewabah. “Kalau tidak diberantas, akan mengurangi kekuatan bangsa,” kata BK. Hingga kini, ungkapan BK itu masih terus relevan untuk terus mencegah dan memberantas penyakit alias membangun kesehatan untuk memperkuat bangsa.