Investasi Sehat Rakyat untuk Negara Kuat

38

Kembali ke Puskesmas

Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, penyakit kardivoaskular merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Penyakit jantung, kanker, dan stroke adalah tiga besar beban penyakit katastropik (BPJS kesehatan).

Padahal 80 persen penyakit kardiovaskular (jantung dan stroke) dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup (CDC). Pakar Vincent T. De Vita Jr juga menyatakan: cancer is one of the most curable chronic diseases. Artinya, upaya pengendalian dan penanggulangan penyakit katastropik di Indonesia perlu lebih ditata dengan baik.

Di sinilah, peran pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) adalah kunci. Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan kontak pertama dengan masyarakat yang memiliki upaya preventif dan promotif. Indonesia memiliki 10.373 puskesmas untuk 270 juta penduduk dan Puskesmas ada di setiap kecamatan.

Tinggal 5,65 persen dari Puskesmas masih belum memiliki tenaga dokter. Namun, 53 persen dari 10.373 Puskesmas belum memiliki 9 jenis tenaga kesehatan sesuai standar yang ditetapkan Kemenkes. Ibarat perang melawan penyakit, ujung tombaknya adalah Puskesmas. Para tenaga kesehatan adalah para jenderal. Makin lengkap jajaran komandannya, maka peperangan lebih bisa dimenangkan.

Puskesmas juga berfungsi sebagai instrumen preventif dan promotif kesehatan. Inti dari langkah ini adalah promosi pemenuhan gizi, sehingga penyakit bisa turut dicegah. Kita perlu mendengungkan lagi formula “4 Sehat 5 Sempurna” yang dicetuskan Bapak Gizi Indonesia.

Pak Poorwo Soedarmo. Slogan tersebut merupakan bentuk sederhana dari konsep pola makan yang mewakili kebutuhan nutrisi lengkap demi menumbuhkan kesadaran gizi masyarakat Indonesia.