Kamis, 23 Mei 2024 | 20:30 WIB

Bikin Investasi Jalan Tol Menarik, Danang Parikesit Wujudkan TIM BPJT

Mayoritas Dalam Negeri

Danang menyatakan, saat ini sebagian besar investor jalan Tol di Indonesia berasal dari dalam negeri. Ada dua kelompok besar investor yakni Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan non BUMN. Ada tiga besar BUMN yang jadi investor jalan Tol di Indonesia. Pertama, BUMN yang banyak mengoperasikan jalan Tol di Pulau Jawa, terutama Jalan Tol Trans Jawa, adalah Jasa Marga.

Kedua adalah Hutama Karya (HK). Selain mengelola Jakarta Outer Ring Road Selatan, HK mengoperasikan sebagian besar Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Ketiga adalah Waskita Karya lewat Waskita Toll Road yang mengoperasikan beberapa ruas jalan tol di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.

Lantas, investor swasta atau non BUMN juga ada tiga besar. Pertama adalah kelompok Astra Infrastruktur, lalu ada Citra Marga Nusaphala Persada, serta ketiga adalah Nusantara Infrastruktur. Di luar itu ada ruas-ruas jalan Tol yang sebagian sahamnya dimiliki investor dari Hong Kong dan Kanada, yaitu ruas-ruas yang beroperasi sebagian sudah dilepas oleh pemilik aslinya dan ini dinamakan asset recycling. Ini cara kita untuk mendorong investasi di jalan Tol berkelanjutan.

Baca: Koentjoro Membangun Legacy Lewat Jalan Tol Trans Sumatera

Jasa Marga melepaskan beberapa ruas miliknya sehingga mempunyai tambahan modal untuk membangun di tempat lain. Waskita Toll Riad juga melepas asetnya untuk memperoleh suntikan modal guna membangun proyek lainnya. Hutama Karya juga akan melepas beberapa ruas aset JTTS kepada Indonesia Investment Authority (INA). Dana yang didapat dari transaksi ini akan digunakan untuk membangun ruas-ruas JTTS lainnya.

Sementara lender atau bank yang paling besar memberikan pinjaman untuk pembangunan jalan Tol adalah Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang terdiri dari Bank Mandiri, BNI, dan BRI. Bank swasta yang aktif menyediakan pembiayaan pinjamann adalah BCA. Sementara itu, lembaga-lembaga keuangan non-bank seperti PT. Sarana Multi Infrasruktur, dan Indonesia Infrastructure Finance juga memberikan pinjaman untuk investasi badan usaha jalan tol.

Danang Parikesit ingin mewujudkan zero fatality di jalan Tol. Foto: KAGAMA.CO/Jos
Danang Parikesit ingin mewujudkan zero fatality di jalan Tol. Foto: KAGAMA.CO/Jos

“Di periode saya ini, banyak inovasi baru yang muncul dari sisi keuangan. Lalu ada inovasi-inovasi baru dari teknologi. Saya berharap ke depan makin banyak inovasi dari teknologi dan sisi pembiayaan. Pasalnya, setelah di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, kita akan membangun jalan Tol di Kalimantan, Ibu Kota Nusantara, Bali, dan Sulawesi, sehingga banyak sekali ruas-ruas yang membutuhkan inovasi dari pembiayaan maupun teknologi.”

“Teknologi kita dorong, kita sudah menerapkan teknologi building information modelling (BIM). Lalu untuk operasi kita sudah menerapkan kecerdesan buatan atau artificial intelligence (AI) sehingga biaya investasi benar-benar kita tekan, efisiensi benar-benar kita lakukan sehingga investasi jalan Tol terus menarik.”

Baca: Nikolas Agung Sukses Pimpin AMKA Berkat Project Creating dan Strategic Partnership

“Ke depan, instrumen-instrumen keuangan seperti obligasi atau saham publik akan sangat menarik untuk investasi jalan Tol. Lewat instrumen keuangan itu, masyarakat luas bisa ikut berpartisipasi di banyak ruas jalan Tol yang beroperasi.”

“Apalagi sudah ada perusahaan pemegang konsesi dan operasional ruas jalan Tol yang sudah berstatus Perusahaan Terbuka (Tbk). Masyarakat dapat membeli saham perusahaan-perusahaan tersebut. Investasi di jalan Tol cocok untuk investasi jangka Panjang, misalnya untuk dana pensiun maupun asuransi,” tuturnya.

Target pemerintah membangun 18.000 kilometer jaringan jalan Tol di Indonesia. Namun, hingga akhir 2021, telah dioperasikan 2.500 kilometer jaringan jalan Tol, bertambah sangat signifikan dari 780 kilometer saat awal Presiden Joko Widodo memerintah. Di akhir era Presiden Jokowi, backbone Jalan Tol Trans Jawa dan Jalan Tol Trans Sumatera diharapkan sudah selesai. Fondasi pertumbuhan ekonomi harus lebih solid sehinga butuh transformasi besar-besaran dari jaringan sistem jalan Tol di Indonesia ke depan.

“Teknologi akan menjadi isu penting. Transformasi, inovasi, dan modernisasi teknologi harus menjadi semangat kita bersama. Ke depan, otomasi juga akan menjadi isu penting. Saat ini sudah ada kendaraan listrik, berikutnya akan ada kendaraan otonom. Oleh sebab itu, jaringan jalan Tol juga akan disiapkan untuk memfasilitasi kendaraan-kendaraan otonom tersebut. Untuk 10 tahun ke depan, kendaraan otonom sudah bisa jalan di jaringan jalan Tol di Indonesia.”

Baca: Maqin U. Norhadi Ciptakan Eksportir Penghasil Devisa untuk Negara

“Kedua, saya masih terobsesi soal zero fatality di jalan Tol. Saya ingin ke depan, tak ada lagi korban kecelakaan meninggal di jalan Tol. Safety menjadi isu penting. Kecelakaan sering kali di luar kontrol kita, tapi mengatasi agar orang kecelakaan tidak meninggal itu bisa kita lakukan. Fasilitas di jalan tol untuk keselamatan dapat ditingkatkan dengan teknologi, menambah kamera pengawas, evakuasi korban kecelakaan lewat udara, sehingga zero fatality di jalan Tol dapat terwujud.”

“Ketiga, jaringan jalan Tol yang terintegrasi ini dapat menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi kawasan. Pemerintah daerah yang menjadi lintasan jaringan jalan Tol harus ikut terlibat, aktif, dan kreatif melihat peluang ekonomi dari daerah dengan memanfaatkan. Lewat jaringan jalan Tol, mereka bisa menjadikan daerahnya sebagai etalase dari aktifitas ekonomi dan bisnis di daerah” pungkas Danang. (Jos)


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA