Komika Alumnus UGM Ini Terus Berkarya di Masa Pandemi

795

Baca juga: Alumnus Farmasi UGM Ungkap Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengkonsumsi Obat Herbal

Pengalaman ini menjadi refleksi bagi para pekerja seni dan pemerintah supaya bisa membangun komunikasi yang baik.

Sehingga pemerintah bisa menjalankan kewajiban melayani masyarakat dan pekerja seni.

Supaya mereka menerima hak yang sama seperti pekerja lain yang juga terdampak.

Saat ini, kata Anang, banyak musisi yang beralih ke panggung digital dalam mengekspresikan karya seninya.

Para pekerja seni lain pun ikut terdorong untuk melakukan dukungan dengan membuka studio musik, kepentingan multimedia, dan jaringan internet yang menunjang kelancaran konser virtual.

Baca juga: Sapardi Djoko Damono Wafat, Indonesia Kehilangan Pujangga Romantis Jebolan UGM

Demikian pula dengan Anang yang juga tak mau berhenti. Dirinya mencoba terus berkarya dengan memanfaatkan media digital You Tube.

Karyanya kali ini menghadirkan konten-konten kreatif yang membuka wawasan, tetapi disampaikan dengan bahasa yang santai dan sedikit dagelan.

“Di era adaptasi kebiasaan baru ini, kita tidak hanya mematuhi SOP dari pemerintah. Tetapi, kita juga punya SOP sendiri untuk menjaga diri, karena diri kita sendirilah yang bisa mencegah Covid-19 menyebar,” tutur pria yang juga ikut mendirikan grup musik Sastromoeni FIB UGM itu.

Putra guru besar FIB UGM, Prof.Timbul Haryono ini mengapresiasi pemerintah yang sudah berusaha menyusun kebijakan bagi para pekerja kreatif.

Namun, dia menyarankan agar kebijakan ini bisa disosialisaikan dengan cara yang tepat, sehingga dpaat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Jangan sampai dibukanya sektor hiburan, termasuk pariwisata menimbulkan euphoria yang berlebih bagi masyarakat. Jika hal ini terjadi, maka transmisi penyakit akan susah ditangkal,” pungkasnya. (Kn/-Th)

Baca juga: Kisah Asisten Pelatih Sepak Bola PSS Sleman Alumnus UGM, Temukan Pentingnya Filsafat Dalam Sepak Bola