Lengang Gedung Pusat UGM dan Sapaan Seram Pria Belanda

1987
Berlama-lama di Gedung Pusat UGM pada malam hari mungkin bukan pilihan yang tepat bagi kamu. Foto: Humas UGM
Berlama-lama di Gedung Pusat UGM pada malam hari mungkin bukan pilihan yang tepat bagi kamu. Foto: Humas UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Jejak-jejak Belanda menghiasi Gedung Pusat UGM alias Balairung.

Bangunan yang dibangun pada 1951 ini menandai kebangkitan Indonesia pasca-agresi militer II Belanda di Jogja (1948).

Mulai dari sini, Gedung Pusat UGM punya ikatan dengan Negeri Kincir Angin.

Termasuk di antaranya kisah mistis yang mungkin pernah kamu dengar.

Ceritanya diawali ketika Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, datang ke UGM untuk meresmikan Balairung pada 19 Desember 1959.

Waktu itu, Bung Karno memperkenalkan sosok arsitek perancang gedung yang dia pinta.

Sosok arsitek itu adalah GPH Hadinegoro, putra kelahiran Surakarta yang menetap di Pakualaman, Yogyakarta.

Baca juga: Totalitas Kagama Karawitan Nguri-uri Budaya

GPH Hadinegoro ditunjuk Bung Karno karena memiliki kemampuan jempolan.

Benar saja, sang pangeran merupakan insinyur jebolan Technische Hooge School, Delf, Belanda.

Memang, rancangan kreasi GPH Hadinegoro tidak murni terinspirasi dari Negeri Kincir Angin.

Sebab, ada corak Eropa, Yunani kuno, Timur Tengah, dan Jawa.

Hal itu seperti dinyatakan Hastangka dalam Jurnal Filsafat UGM Volume 24 (2014).

Akan tetapi, konon Bung Karno hanya menggunakan Bahasa Belanda dengan GPH Hadinegoro.

Yakni kala sang proklamator mendiskusikan soal konsep arsitektur bangunan modern pertama di Indonesia ini.

Baca juga: Trik Berhemat Gunakan Dompet Digital