Ayahku Guru Hebat, Aku Guru Gagal

248
M. Wahid Supriyadi (duduk di depan) punya pengalaman berkesan tentang sang ayah tercinta yang berprofesi sebagai guru.
M. Wahid Supriyadi (duduk di depan) punya pengalaman berkesan tentang sang ayah tercinta yang berprofesi sebagai guru.

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Ayah saya seorang guru tulen zaman dulu. Beliau sangat berdedikasi, jujur, disiplin dan tidak pandang bulu ketika mengajar. Merasa ayahnya guru, ketika itu sudah menjabat kepala sekolah, saya terkadang keluar nakalnya.

Pernah suatu ketika, di luar jam istirahat, saya main gangsingan di luar halaman sekolah, dan kepala saya bocor kena paku gangsing teman saya. Saya pun ngadu ke ayah, dengan harapan teman saya disetrap. Di luar dugaan, ayah saya marah dan menyalahkan saya karena berani melanggar aturan sekolah, tidak boleh keluar dari halaman sekolah di waktu istirahat.

Saya pun disuruh pulang. Saya ngadu ke ibu saya, dan ketika ayah pulang saya lihat ibu memarahi ayah. Ayah seperti biasa cuma diam dan tidak bereaksi. Saya pun merasa berdosa.

Suatu ketika, setelah lulus dari sebuah SMP swasta di kota kecil, Prembun, saya mendaftar di SMAN Purworejo, sebuah SMA favorit di bagian Selatan Jawa yang tingkat kompetisinya cukup tinggi. Saya agak ragu apa bisa diterima mengingat kampung saya masuk wilayah Kabupaten Kebumen, walaupun jarak kedua kota dari kampung sama hampir sama, sekitar 20-an kilometer. Akhirnya saya diterima, betapa bangganya ayah.

Pulang mendaftar di SMAN Purworejo, saya diajak jalan kaki sambil mencari kendaraan umum melewati SPGN Purworejo yang juga merupakan salah satu SPG terbaik di Jawa Tengah. Ayah pun bertanya ke saya apakah tidak sebaiknya mendaftar ke SPG untuk jaga-jaga jika tidak diteria di SMAN Purworejo.

Tanpa pikir panjang saya nyeletuk “Pak, tidak ada sejarah guru yang kaya”. Saya melihat raut muka ayah saya agak syok mendengar jawaban saya. Namun beliau tidak marah. Beliau diam seribu basa tanpa mengucapkan satu kata pun. Saya tidak tahu apa yang ada di benak ayah. Mungkin beliau menganggap saya kurang ajar. Saya benar-benar merasa berdosa, dan itu saya ingat sampai sekarang.

Walaupun lahir dan besar di sebuah kampung terpencil yang tidak ada listrik, ayah sebenarnya seorang guru yang berwawasan luas dan terkadang sangat liberal. Ketika saya memutuskan untuk masuk jurusan bahasa, ayah sama sekali tidak marah dan semua diserahkan kepada saya. “Yang penting kamu menyukainya dan serius,” jawab beliau singkat. Ketika itu, akan menjadi kebangaan tersendiri bagi orang tua jika anaknya diterima di jurusan IPA. Bahkan ada yang melakukan lobi-lobi agar anaknya dapat diterima jurusan IPA.

Baca juga: Pusat Budaya dan Bahasa Indonesia Siap Dibuka di Belarus