Ayahku Guru Hebat, Aku Guru Gagal

407

Terinspirasi Profesor

Saya terinspirasi oleh seorang profesor dari Amerika Serikat yang pernah mengajar saya, bagaimana beliau mencoba memperlakukan mahasiswa sebagai teman. Tetapi cara ini sepertinya kurang pas di masa itu, dan mungkin sekarang.

Zaman Orde Baru (Orba), guru disanjung sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Menurut saya, ini pelecehan terhadap profesi guru dan hanya rekaan Pemerintah Orba karena gagal menyejahterakan guru. Saya merasakan serba kekurangannya kehidupan para guru ketika itu, walaupun saya tinggal di desa yang relatif biaya hidupnya lebih redah. Beruntung tetangga saya di kampung baik-baik, sering memberikan hasil panennnya ke ayah.

Presiden Soeharto sebenarnya bermaksud baik dengan menerbitkan Keputusan Presiden  no 78 tahun 1994 yang menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Tanggal ini terpilih mengacu pada lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) berdasar kongres tanggal 24-25 Nopember1945. Masa itu memang semuanya serba simbolis, nasib guru tetap saja tidak berubah.

Saya melihat nasib guru sekarang seebnarya tidak separah jaman Orba, apalagi di beberapa propinsi kaya, nasib guru pun ikut terkerek. Tetapi itu belum cukup. Setelah berkecimpung di dunia diplomasi selama 35 tahun  dan selama 20 tahun hidup di luar negeri, saya masih melihat kehidupan guru yang jauh dari ideal.

Selain beban kurikulum yang mungkin paling berat di dunia, guru masih dipandang sebelah mata. Seorang murid di Indonesia dibebani dengan belasan mata pelajaran, sementara teman-teman mereka di luar negeri hanya antara 4-5 mata pelajaran. Katanya kita ingin mendidik “manusia Indonesia seutuhnya”. Sampai sekarang saya tidak tahu arti pepatah itu.

Di negara-negara maju, guru merupakan jabatan yang dipandang cukup terhormat, bahkan banyak dari mereka yang akhirnya menjadi seorang politisi dan puncak karir sebagai Kepala Pemerintahan. Beban kurikulum, tuntutan jenjang profesi agar memenuhi syarat secara administratif justru menyebabkan guru kurang konsentrasi pada tugasnya sebagai pengajar.

Selamat Hari Guru. Kita semua berhutang budi pada mereka.

Depok, 26 November 2021.

M. Wahid Supriyadi*

* Penulis adalah mantan guru, mantan dosen, mantan Konjen RI Melbourne, mantan Dubes RI untuk UAE dan Federasi Rusia. Bukunya “Diplomasi Ringan dan Lucu: Kisah Nyata” diterbitkan Buku Litera tahun 2020.