KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Prof. E.L. Yong, MBBS., FRCOG., PhD dari National University of Singapore menyebutkan bahwa laki-laki berperan besar dalam memberikan dukungan (support) pada kesehatan perempuan.

Hal ini disampaikan dalam konferensi pers Winter Course 2019 on Interprofessional Health Care: Women’s Health and Wellness di Grha Wiyata, FKKMK UGM, Senin (07/01/2019).

Menurut Yong, laki-laki berperan dalam membantu perempuan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, karena perempuan memiliki risiko kesehatan lebih tinggi daripada laki-laki. Bahkan, ia menyebutkan bahwa di Singapura perempuan sifatnya independen dan mereka banyak berkecimpung di sektor publik.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila laki-laki mengurus rumah seperti memasak, merawat anak, dan mengatur pekerjaan rumah.

Berbeda dari kehidupan laki-laki dan perempuan di Singapura yang disampaikan Yong, Prof. Chieko Greiner dari Kobe University menyebut bahwa di Jepang, laki-laki masih memiliki pandangan yang tradisional.

“Di Jepang ada pembedaan antara dokter laki-laki dan dokter perempuan yang ditempatkan dalam aspek terentu,” ungkapnya.

Pernyataan Chieko ini pun dibenarkan oleh dr. Gunadi, PhD., SpBA, selaku Ketua Panitia Winter Course 2019 yang sempat praktik di Jepang. Menurutnya, pembedaan di Jepang mungkin dilakukan karena laki-laki dan perempuan memiliki kapabilitas dalam aspek-aspek tertentu.

Gunadi mencontohkan dengan dokter perempuan di Jepang yang menangani masalah kesehatan anak. Hal tersebut terjadi karena perempuan dianggap lebih kompeten dalam merawat anak.

Dalam Winter Course 2019, Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih tinggi memang menjadi fokus agar jumlahnya dapat diminimalisir. Akan tetapi, masalah kesehatan perempuan lain seperti epidemik AIDS dan peyakit menular lainnya (sexual diseases, STDs) juga menjadi penting.

Menurut Gunadi, laki-laki juga berperan besar dalam menularkan penyakit seksual. Perempuan atau ibu beserta anaknya menjadi dirugikan dengan adanya penyakit seksual karena kemungkinan besar ditularkan suami yang ternyata multipartner. 

“Perempuan seringkali bingung mengapa mereka bisa terkena penyakit seksual. Ternyata suaminya yang multipartner telah menularkan penyakit seksual. Namun, hal ini perlu diperkuat lagi dengan penelitian lebih lanjut,” pungkas Gunadi. (Tita)