Adi Sutrisno Jadi Dosen Sastra Inggris UGM Berkat Saran Kekasih

1569

Baca juga: Mahasiswa Asal Rusia yang Mencintai Budaya Indonesia

Seminggu pertama tinggal di Australia ia hanya minum soda dan makan-makanan cepat saji.

“Waktu itu, hanya makanan-makanan itu yang bisa Saya makan. Tapi kemudian Saya diberi tahu teman toko yang menjual bahan-bahan makanan Asia Tenggara. Lalu saya sering berbelanja di situ dan mulai belajar memasak,” kenang Adi.

Culture shock masih berlanjut ketika Adi mulai memasuki kehidupan kuliah.

Karena masuk kuliahnya dipercepat, Adi mengawali kuliahnya di semester dua.

Sebagai mahasiswa baru, tentu Adi merasa kesulitan beradaptasi dengan materi kuliah yang kesulitannya lebih tinggi.

Baca juga: ‘Can Do Spirit’ Korea untuk Kemajuan Indonesia

Walaupun alami culture shock, Adi merasa betah dengan kehidupan kuliah di Australia, termasuk suasana belajarnya yang kondusif, serta sistem belajar di kelas yang lebih tegas dan efektif.

Ia juga mencari penghasilan tambahan dengan menjadi dosen bahasa Indonesia di kampusnya.

Setelah beberapa tahun hidup di Australia, banyak perubahan yang ia rasakan, terutama dalam perkembangan kesehatannya.

Adi tidak lagi alami perut mual ketika bahagia dan sedih, serta penyakit asmanya tidak lagi kambuh.

Setelah meraih gelar master, ia kemudian mendapat kesempatan berkunjung ke University College London (UCL), Inggris dan ke Amerika dalam rangka membangun kerja sama Prodi Sastra Inggris UGM dengan salah satu universitas di sana selama empat bulan.

Baca juga: Wajah Islam Ada di Indonesia