Transtoto: Rimbawan Perlu Berpolitik Praktis

170
Dr. Transtoto Handadhari menilai bahwa kepekaan yang tidak muncul dari para rimbawan mengakibatkan pengelolaan dan pemanfaatan hutan, khususnya hasil kayu serta proses alih status lahan kawasan hutan terjadi besar-besaran tanpa kendali. Foto: Dok. Pribadi
Dr. Transtoto Handadhari menilai bahwa kepekaan yang tidak muncul dari para rimbawan mengakibatkan pengelolaan dan pemanfaatan hutan, khususnya hasil kayu serta proses alih status lahan kawasan hutan terjadi besar-besaran tanpa kendali. Foto: Dok. Pribadi

KAGAMA.CO, JAKARTA –  Perpolitikan yang telah ada sejak sebelum kemerdekaan RI rupanya tidak menarik untuk dimanfaatkan oleh para rimbawan khususnya dalam menetapkan dan menjaga kebijakan pelestarian hutan.

Akibatnya tidak pernah ada pembelaan politik terhadap 140 juta hektare hutan kita yang kini sekitar 40 persennya telah rusak parah, dan sekitar 30 persen talah beralih fungsi dan status.

Kondisi agar tidak alergi terhadap pentingnya kepolitikan sebenarnya sudah lama diserukan oleh Dr. Transtoto Handadhari, rimbawan KAGAMA, antara lain dalam tulisannya berjudul “Rimbawan Kehutanan” di Majalah Tropis (2000), Harian Kompas (2000), di dalam Platform Perjuangan Partai Politik (2002-2004) dan Majalah Gatra (2004).

Kepekaan yang tidak muncul dari para rimbawan mengakibatkan pengelolaan dan pemanfaatan hutan, khususnya hasil kayu serta proses alih status lahan kawasan hutan terjadi besar-besaran tanpa kendali.

Baca juga: Transtoto Tegas Bilang Pemerintahan yang Tidak Mempedulikan Ekonomi Hijau akan Runtuh

“Sayang sekali, hutan setelah porak poranda kebijakan pemuliaan hutan hampir tidak dilakukan.

“Pembuatan dan perawatan pohon jadi sangat kurang diperhatikan,” keluh Transtoto yang juga menjadi Deklarator Pemuliaan Hutan Tanpa Kecurangan pada 22 Februari 2022 silam di Gunungkidul itu.

Kebijakan kehutanan cenderung lebih bersifat menghabiskan yang tersisa, bukannya memperbaiki kerusakan yang ada.

“Sedangkan politik punya peran penting membuat aturan dan penganggaran serta mengawasinya,” ujar Transtoto.

Baca juga: Krisis Kebijakan Kelola Hutan Jawa Belum Tuntas

Bekas calon Menteri Kehutanan lebih dari empat kali itu memgajak para rimbawan untuk bangkit masuk ke dunia politik, menguasai basis-basis partai politik di dewan legislatif baik pusat sampai daerah.

Transtoto sendiri menyatakan siap terjun ke dunia politik demi pelestarian sumber daya hutan sebagai inti lingkungan hidup yang dicintainya.

“Partainya apa?” tanyanya yang dijawabnya sendiri: “Partai yang baik penuh perjuangan tanpa kecurangan.” (*)