GeNose C19 Berhasil Publikasi di Dua Jurnal Internasional Bereputasi

90
Saat ini GeNose C19 sedang dalam proses perpanjangan izin edar sekaligus mengepakkan sayap ke Malaysia, Singapura, Jepang dan Kambodja. Foto: Firsto
Saat ini GeNose C19 sedang dalam proses perpanjangan izin edar sekaligus mengepakkan sayap ke Malaysia, Singapura, Jepang dan Kambodja. Foto: Firsto

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Tim GeNose C19 UGM berhasil mempublikasikan data riset GeNose C19 sebagai alat skrining Covi-19 di dua jurnal internasional bereputasi pada Agustus 2022.

Kedua jurnal tersebut adalah ArtificialIintelligence in Medicine (AIIM) dan Nature Portfolio Journal (NPJ) Digital Medicine yang keduanya merupakan jurnal Q1.

Inventor GeNose C19, Prof. Dr. Kuwat Triyana, mengatakan bahwa Tim GeNose C19 Universitas Gadjah Mada (UGM) telah mempublikasikan sebagian data riset GeNose C19 sebagai bagian pertanggungjawaban ilmiah riset hilirisasi implementasi GeNose C19 sebagai alat skrining Covid-19.

Kedua publikasi tersebut merupakan tahap awal dari keseluruhan data yang saat ini dalam proses penyelesaian penulisan manuskrip yaitu terkait data hasil uji klinis multisenter dan uji validasi eksternal yang melibatkan multiinstitusi.

Baca juga: Presiden RI Joko Widodo akan Dianugerahi Maritime Award 2022

Data-data riset GeNose C19 berhasil terpublikasikan di Artificial intelligence in Medicine (AIIM), yang merupakan jurnal Q1 dengan impact factor 7,011, berjudul Hybrid Learning Method Based on Feature Clustering and Scoring for Enhanced Covid-19 Breath Analysis by an Electronic Nose, terbit pada bulan Mei 2022 (Vol. 129(02323), Hal. 1-13).

Sementara dalam Nature portfolio journal (npj) Digital Medicine, yang merupakan jurnal Q1 dengan impact factor 15,357, dengan judul Fast and noninvasive electronic nose for sniffing out Covid-19 based on exhaled breath-print recognition, terbit pada bulan Agustus 2022 (Vol. 5(115), Hal. 1-17).

“Diterimanya publikasi hasil riset GeNose menunjukkan bahwa konsep sensing infeksi dengan analisis volatile organic compound (VOC) nafas berbasis big data dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dapat diterima dalam aplikasi klinisnya,”papar Kuwat saat Konferensi Pers di Ruang Fortakgama UGM, Senin (22/8/2022).

Dengan diterimanya konsep ini, Kuwat mengatakan pemanfaatan AI dan teknologi informasi menjadi sebuah revolusi dalam memanajemen penyakit baik penyakit infeksi maupun noninfeksi.

Baca juga: Pengelolaan Sawit Berkelanjutan Berbasis Teknologi sebagai Upaya Melawan Kampanye Negatif Sawit Indonesia di Pasar Global

Data-data yang dikumpulkan dari pasien dengan metode tertentu secara terstandarisasi dapat menjadi sumber biomarker baru yang valid, reproducible dan terjangkau.

“Hanya memang diperlukan pengujian terus menerus dan update dari database serta algoritma AI untuk terus dapat meningkatkan performa diagnostiknya.”

“Untuk proses learning berbasis hybrid dibahas secara lengkap di manuskrip pertama, sedangkan proses pengujian hasil learning secara uji diagnostik multisenter sekaligus hasil validasi eksternal akan diterbitkan di jurnal internasional bereputasi berikutnya,” ucapnya.