Minggu, 16 Juni 2024 | 09:19 WIB

Kisah Yahyawan Triyana yang Pilih Teknik Pertanian UGM untuk Beri Kontribusi kepada Masyarakat

Baca juga: Solidaritas Sosial adalah Kekuatan Bangsa Indonesia untuk Bertahan

Di sisi lain, pensiun dini dari Frisian Flag adalah keputusan terbaik bagi Yahya.

Maklum, selama bekerja jadi tim marketing, Yahya tak punya waktu cukup untuk melihat tumbuh dan kembang ketiga anaknya.

Pasalnya, selama bekerja dia harus pindah-pindah tempat: mulai dari Jakarta, Jawa Barat, Banten, Kalimantan, Sumatera, hingga ke Nusa Tenggara Timur.

Yahya pun serius berwirausaha pada 2010 dengan bendera Megalab Inovasi.

“Alasan utama (berwirausaha) adalah untuk mengawal anak menuju masa depannya, selama ini kutinggal melulu,” kata Yahya.

“Saat ini dengan tim inovator menjadi pemberi solusi dan teknologi tepat guna buat pengolahan sampah dan limbah industri,” terangnya, yang punya hobi travelling.

Yahya sebetulnya telah memulai usaha selepas bekerja dari PATTIRO. Waktu itu bertepatan dengan kepindahan domisilinya menuju Bandung pada 2004.

Baca juga: Berkat Teknologi dan Gaya Hidup, Ahmad Shofi Yakin Regenerasi Petani Akan Terwujud

Dia membuat greenhouse, hidroponik, mesin otomatisasi pertanian, dan meracik pupuk dengan merek AB Mix.

Prinsip yang dipakai Yahya dalam berwirausaha sederhana. Dia melihat persoalan sekitar tentang apa yang terjadi, lalu mencoba mencari solusi dengan teman yang berkompeten.

Terbaru, Yahya dan tim memproduksi alat cuci tangan otomatis tanpa sentuh.

“Seluruh produksi dikerjakan di Bandung. Saya ingin cari image bahwa Bandung pusat industri mesin kreatif,” kata Yahya.

“Mesin buatan Yogya bila dikirim dari Bandung pasti nilai jualnya lebih. Mesin paling jauh dijual ke NTT, Maluku Utara, Sulawesi, Aceh, dan Kalimantan Utara,” bebernya.

Yahya saat ini juga memberdayakan sekitar 50 peternak susu kambing perah di kaki Gunung Manglayang.

Jika diingat-ingat lagi, pekerjaan yang ditekuni Yahya sejak 2010 ini adalah perwujudan dari alasan mengapa dia memilih Teknik Pertanian 31 tahun lalu: belajar teknologi tepat guna.

Dengan menciptakan produk inovasi teknologi tepat guna, Yahya mampu mengeksekusi satu nilai ke-UGM-an yang dia dapat selama kuliah.

“Berusaha memberi kontribusi kepada masyarakat,” kata Yahyawan Triyana.

“Belajarlah dengan tekun dan selalu buka wawasan dan wacana. Biarlah masa depan mencari jalannya sendiri,” pungkasnya, berpesan kepada mahasiswa. (Ts/-Th)

Baca juga: Tata Kelola Sistem Produksi Pangan Kunci Wujudkan Jargon ‘Forest For Food’


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA