Minggu, 16 Juni 2024 | 10:37 WIB

Kisah Yahyawan Triyana yang Pilih Teknik Pertanian UGM untuk Beri Kontribusi kepada Masyarakat

Baca juga: Cerita di Balik Jenggot Ganjar Pranowo

Mereka adalah Eko Yulianto, Dwiana Satoto, Nurwantoko, Feri iskandar, Danang Rumboko, Zainudin, dan Nurul Rahmi.

“Dengan Feri Iskandar, aku sering dipinjami komputer dengan dikasih tahu kunci kamarnya. Juga printer untuk buat laporan praktikum dan skripsi,” kata Yahya.

“Dengan Zainudin dan Eko, kami berlima ramai-ramai berkunjung ke rumahnya (Eko) di desa Deles (Klaten) dan menginap. Kami kemah sambil menikmati alam,” jelas dia, yang semasa kuliah berambut gondrong.

Selain mendapatkan teman-teman akrab, Yahya juga menemukan sosok dosen idola di jurusan yang kini bernama Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem.

“Pak Sigit Supadmo Arif adalah dosen idolaku, selain Pak Saiful Rochdyanto (almarhum. Pak Sigit sangat perhatian sama mahasiswanya,” ujar Yahya.

“Ketika aku sudah kerja di Jakarta, kami bertemu di Yogya. Saat itu aku mengantar ibuku berobat di apotek. Beliau menawarkan beasiswa S2.”

“Sedangkan Pak Saiful sangat baik, sangat care, dan memerhatikan perjalanan hidupku,” terang warga KAGAMA Bandung ini.

Di luar perkuliahannya, Yahya pernah bergabung dengan Koperasi Mahasiswa UGM (Kopma) sebagai seksi dokumentasi.

Menjelajah alam bersama teman-teman. Foto: Dok Pri
Menjelajah alam bersama teman-teman. Foto: Dok Pri

Baca juga: Perjalanan Gabriel Asem Membangun Tambrauw yang Awalnya Hanya Berupa Perbukitan dan Panta

Perjalanan Karier

Dunia pemasaran (marketing) menjadi teman akrab Yahya ketika memasuki gerbang perjalanan karier.

Perusahaan biofarma Union Chemical Belgium (UCB) pun menjadi pijakan pertama dia setelah lulus sampai 2002.

Kemudian, Yahya pindah ke Frisian Flag, perusahaan multinasional yang terkenal dengan produk susunya.

Pada selang 2003-2004, Yahya sempat bekerja untuk lembaga swadaya masyarakat, PATTIRO (Pusat Telaah dan Informasi Regional), yang bekerja sama dengan AUSAID.

Oleh PATTIRO, Yahya ditempatkan di Kupang sebagai manajer kantor. Meski begitu, Yahya masih tetap bekerja di Frisian Flag hingga meminta pensiun dini pada 2010.

Saat ditanya mengapa memilih terjun ke dunia marketing, Yahya membeberkan alasannya.

“Pengen jalan-jalan gratis, tiap tahun dapat bonus ke luar negeri hi… hi… ,” ujarnya, sambil tertawa kecil.

Baca juga: Apa yang Unik dari Nitilaku Virtual Tahun Kembar?


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA