KAGAMA.CO, BULAKSUMUR—Dosen sebagai insan akademisi dikenal dengan kewajibannya melakukan penelitian. Hasil dari penelitian itu biasanya akan dipublikasikan dalam bentuk jurnal atau buku ilmiah, dan harus ditulis dengan kaidah-kaidah ilmiah yang rigid.

Akan tetapi, di tengah kewajiban menulis ilmiah tersebut, ternyata masih ada dosen-dosen UGM yang produktif menerbitkan karya-karya non-akademik yang dalam hal ini dipahami sebagai karya fiksi seperti novel maupun puisi dengan model tulisan yang lebih bebas. Berikut adalah tiga dosen UGM yang dikenal produktif menulis karya-karya fiksi:

1. Bakdi Soemanto

Guru Besar FIB ini selain menulis beberapa buku akademik tentang kajian semiotic, juga pernah menulis beberapa kumpulan puisi dan cerpen. Kumpulan puisinya dimuat dalam beberapa buku antara lain yang berjudul Tugu, Tonggak. Adapun novel-novelnya antara lain berjudul Dari Natal ke Doktor Plimin dan Mincuk.

2. Mangunwijaya

Dosen Luar Biasa di Fakultas Teknik UGM ini dikenal sebagai sosok multitalenta. Ia dikenal sebagai rohaniawan, arsitek, sastrawan, akademisi, dan aktivis pembela wong cilik. Karya-karya sastra yang ia hasilkan antara lain cerpen dengan judul Romo Rahadi, Burung-Burung Manyar, Burung-Burung Rantau, dan Rara Mendut.

3. Umar Kayam

Guru Besar FIB jebolan Sastra Indonesia UGM ini juga dikenal sebagai sosok multitalenta. Sepanjang hidupnya, Umar dikenal sebagai budayawan, birokrat, akademisi,  sastrawan, esais, dan aktor. Karya tulis non akademik yang ia hasilkan antara cerpen berjudul Para Priyayi, Jalan Menikung, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan dan Sri Sumarah.[Venda]