Sulhan Tak Pernah Punya Cukup Uang untuk ‘Membeli’ Waktu

179
Masalahnya sekarang, Saya punya cukup uang untuk beli buku, tapi Saya nggak merasa pernah punya cukup uang untuk beli waktu. Foto: Istimewa

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Ketertarikannya pada kegiatan organisasi dan public speaking mendorong Dr. Muhamad Sulhan, M.Si. (45), menempuh studi di Ilmu Komunikasi UGM selepas lulus SMA pada 1993.

Dikatakan Sulhan, dirinya sempat tergila-gila dengan dunia jurnalistik.

Namun, seiring dengan banyaknya perubahan yang terjadi di dunia media, muncul sense dalam diri Sulhan untuk menjadi researcher, hingga hari ini.

Dikenal Suka ‘Melawan’

Semasa mahasiswa, Sulhan dikenal sebagai orang yang suka ‘melawan’.

Sifat melawan itulah yang membuat dirinya kerap berpikir dan bersikap out of the box.

”Pada saat itu, di saat kuliah teman-teman biasa mencatat, Saya ogah, ngapain? Dosen yang hanya menyuruh mahasiswanya mencatat itu aneh di mata Saya. Saya memilih out dari kelas, lalu nongkrong di perpus dan membaca apa saja. Saya ini lebih suka membaca di zaman orang harus menulis,” kenangnya kepada KAGAMA.

Kegemarannya membaca membuat Sulhan terus berharap bisa mendapat rezeki lebih, agar suatu hari nanti bisa membeli buku apapun yang dia sukai.

Sulhan dalam sebuah pertemuan. Foto: Istimewa
Sulhan dalam sebuah pertemuan. Foto: Istimewa

Baca juga: BKPM dan KBRI Beijing Genjot Masuknya Investasi ke Indonesia

”Dan rasanya hanya untuk itu aku ingin hidup. Begitu selesai master, dapat beragam project penelitian dan pengabdian, mulai punya uang dan menabung. Harapan itu jadi kenyataan. Keluar uang banyak untuk buku sekarang udah biasa, dan Saya nggak peduli. Masalahnya sekarang adalah Saya punya cukup uang untuk beli buku, tapi Saya nggak merasa pernah punya cukup uang untuk beli waktu,” ujarnya.

Hobi Kelayapan Sejak Dulu

Pasca menyelesaikan studi 1998, Sulhan kemudian mengawali kariernya sebagai asisten peneliti pada 1999.

“Saya suka ke lapangan, suka jalan-jalan. Menurut Saya, riset etnografi itu paling menarik,” ujar Sulhan.

Bersamaan dengan itu, terjadi konflik sampit.

Kala itu, melalui beberapa Ikatan Mahasiswa Kalimantan di Jogjakarta, Sulhan diberi amanah untuk berperan serta menginisiasi perdamaian melalui forum komunikasi, bersama kawan-kawannya dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur (Madura).

Sulhan menjadi Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Keluarga Kalimantan-Madura.

“Konflik Sampit ini, jadi tema tesis Saya. Posisi Saya emang sebagai asisten dosen, tetapi lebih suka kelayapan, nggak berubah. Kebetulan juga belum punya posisi waktu itu. Kebiasaan organisasi inilah yang membuat saya jadi punya banyak teman hingga sekarang,”pungkas Sulhan.

Baca juga: Berbagai Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Menabung