Prodi Teknik Sipil UGM Punya Karakter Berbeda

6
Bagi universitas lain Teknik Sipil dan Lingkungan merupakan dua isu yang terpisah. Foto: Istimewa
Bagi universitas lain Teknik Sipil dan Lingkungan merupakan dua isu yang terpisah. Foto: Istimewa

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Anda tentu sudah familiar dengan jurusan yang satu ini.

S1 Teknik Sipil kebanyakan menjadi pogram studi (Prodi) yang populer hampir di setiap universitas, termasuk di UGM.

Popularitas tersebut masih terlihat, manakala isu-isu yang dibawa oleh Teknik Sipil sangat berkaitan dengan program pembangunan besar pemerintah saat ini.

Pembangunan infrastruktur yang sedang gencar dilaksanakan, tentunya menjadi sorotan banyak pihak.

Sudah menjadi tugas akademisi Teknik Sipil untuk mengawal program pembangunan ini dengan berbagai kajian yang bermanfaat.

Popularitas Prodi Teknik Sipil menjadi kebanggaan sekaligus tantangan bagi mahasiswanya.

“Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk pembangunan infrastruktur sangat besar, tetapi pemerintah ingin semua serba cepat.”

“Mahasiswa harus menyongsong itu menjadi lebih siap,” pungkas Ir. Rachmad Jayadi, M.Eng., Ph.D, selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) S1 Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM kepada KAGAMA, belum lama ini.

Dalam merespon kondisi tersebut, Teknik Sipil UGM mengawalinya dengan melakukan inovasi kurikulum.

Teknik Sipil UGM berharap bisa menjadi rujukan di level nasional maupun internasional, menghasilkan lulusan berkepribadian baik, dan bisa mengabdi dengan mengedepankan profesinya.

Seperti misi prodi di UGM pada umumnya, Teknik Sipil UGM juga melakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang melibatkan mahasiswa.

Rachmad menjelaskan, program pengabdian ini dilakukan bersama Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil (KMTS) UGM.

Belum lama ini KMTS mengadakan program Srawung Desa di Kulon Progo.

Pengabdian dilakukan seperti KKN, mahasiswa tinggal bersama penduduk dan melakukan observasi.

“Kami menyumbangkan sesuatu yang terkait dengan pembangunan infrastruktur desa. Kondisi desa sering mengalami banjir.”

“KMTS bersama KATSGAMA membuat jembatan yang terletak di perbatasan dua desa.”

“Pembangunan infrastruktur transportasi ini merupakan program pembangunan jangka panjang,” ungkap Rachmad.

Ada pun kerja sama dengan pemerintah terkait dengan pembangunan rumah rehab sederhana.

Mahasiswa ditugasi melakukan survei, serta mengidentifikasi dan mendampingi tim dari pusat untuk melakukan penilaian kelayakan bangunan.

Tantangan lain yang harus dihadapi oleh mahasiswa maupun Prodi adalah pengembangan output.

Menurut Rachmad, kualitas lulusan harus sedekat mungkin dengan permintaan tenaga kerja.