Tuntutan sebagai tulang punggung keluarga ternyata tak membuatnya kehilangan rasa empati terhadap mahasiswa yang kekurangan. Acap kali ada mahasiswa yang berhutang lantaran belum menerima kiriman, atau yang beasiswanya belum cair. Mbak Jajan dengan rendah hati menerimanya.

“Modalnya kan saling percaya. Masak, saya sudah dipercaya dagang di sini tapi saya gak percaya sama mahasiswa, kan gak bener kalau kayak gitu”, pungkas Mbak Jajan mengakhiri pembicaraan kami sembari mengangkat piring-piring yang telah selesai dicuci. Sayangnya, Mbak Jajan menolak ketika hendak dipotret wajahnya.[Venda Pratama]