Tatkala Pejabat BUMN Jadi Tumenggung Mataram

278

YOGYAKARTA, KAGAMA- Sejumlah pejabat dan mantan pejabat negara tampil dalam pentas ketoprak kolosal Sihir Pembayun di Convention Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kamis (22/12/2016) malam. Ada pula guru besar turut mendukung pementasan tersebut.

Beberapa pejabat itu adalah Direktur Utama Perum Bulog (Badan Urusan Logistik) Djarot Kusumayakti, MM yang memerankan Tumenggung Suradipa di Mataram.

kagama.co/ansor purnomo
Foto: Ansor Purnomo/kagama.co

Turut mendukung lakon bernuansa mistis karya Joko Santoso itu adalah Dr. Ir. H. Transtoto Handadhari, SHA, M.Sc, yang pernah menjadi Dirut Perum Perhutani (2005-2008) dan alumnus Fakultas Kehutanan UGM 1973. Ada pula Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM Prof Dr Ir Cahyono Agus Dwi Koranto, M Agr Sc serta anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Irjen Pol (Purn) Bekto Suprapto.

Di panggung sebelum pertunjukan dimulai, Transtoto Handadhari menjelaskan, pergelaran ketoprak merupakan kerja kreatif Yayasan Green Network Indonesia bekerjasama dengan Nyutra Budaya Yogyakarta dan Dewan Teater Yogyakarta.

Turut mendukung lakon itu adalah  Yani Saptohudoyo yang berperan sebagai Kanjeng Ratu Kidul. Selain itu, alumni dan siswa SMP Negeri 2 Yogyakarta serta sejumlah aktor, seperti Liek Suyanto, Wahyana Giri MC, Udiek Supriatna, dan komedian Sugeng Iwak Bandeng.

Aksi panggung para pejabat dan mantan pejabat itu mendapat sambutan luar biasa dari penonton. Cahyono Agus Dwi Koranto yang memerankan sebagai Panembahan Senapati mampu memukau penonton.

Begitu pula Transtoto Handadhari , Djarot Kusumayakti, dan Bekto Suprapto yang berperan sebagai tumenggung pun menambah seru pertunjukan.

102
Foto: Ansor Purnomo/kagama.co

Uniknya, beberapa pejabat yang ditemui redaksi kagama.co di ruang rias, seperti Transtoto dan Djarot tidak mengetahui nama tokoh yang diperankan masing-masing.

Bahkan, Djarot pun mengaku tidak tahu dialognya. Pasalnya, dalam proses casting sempat beberapa kali mengalami perubahan.

“Ndak tahu saya jadi siapa? Tumenggung siapa gitu. Soale sempat gonta-ganti,” tutur Transtoto disertai gelak tawa.

Foto: Ansor Purnomo/kagama.co
Foto: Ansor Purnomo/kagama.co

Menurut Cahyono Agus DK, sebenarnya mereka  sudah beberapa kali bermain ketoprak, antara lain di Jakarta dan Yogyakarta. Karenanya, mereka relatif tidak kesulitan.

Sedangkan pemilihan lakon Sihir Pembayun berkaitan dengan eksistensi dan peran sosok perempuan putri Panembahan Senapati selaku pendiri kerajaan Mataram Islam.

Karenanya, sebagai upaya menghargai jasa kaum perempuan atau ibu maka pihaknya menggelar pertunjukan bertepatan tanggal 22 Desember 2016 yang juga dirayakan sebagai Hari Ibu.

Foto: Ansor Purnomo/kagama.co
Foto: Ansor Purnomo/kagama.co

“Kita ingin ikut nguri-uri seni budaya. Kami kebetulan sebagian besar warga satu kampung di Nyutran (Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta–Red). Kebetulan juga ada Mas Giri (Wahyana Giri MC selaku sutradara–Red) yang juga pengurus Dewan Teater Yogyakarta dan Pak Joko Santoso yang menulis lakonnya. Kita bersinergi. Ada regenerasi juga dengan mengajak adik-adik SMP Negeri 2 Yogyakarta,” urainya. (rts)