Irfan Dwidya, dari yang Sering Berkelahi di Sekolah Sampai Raih Dua Gelar Profesor

443
Sebagai dosen yang saat ini juga menjabat sebagai Direktur Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat (DPKM), ia sedang berusaha melakukan perubahan yang lebih baik untuk KKN UGM. Foto: Irfan
Sebagai dosen yang saat ini juga menjabat sebagai Direktur Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat (DPKM), ia sedang berusaha melakukan perubahan yang lebih baik untuk KKN UGM. Foto: Irfan

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Banyak orang berkomentar tentang Prof. Ir. Irfan Dwidya Prijambada, M.Eng., Ph.D, yang semasa kuliahnya hobi mendaki gunung, tetapi di masa tuanya bisa menjadi profesor.

Perjalanan hidupnya sejak kecil hingga menempuh pendidikan tinggi terbilang unik dan mengesankan bagi pria asal Surabaya itu.

Bisa dikatakan, Irfan adalah orang yang tidak sepenuhnya beruntung, tetapi juga tak terlalu prihatin.

Orang tuanya bekerja sebagai guru SD yang harus menghidupi keenam anaknya.

Irfan adalah putra ke duanya. Sementara itu, kedua orang tuanya juga punya kewajiban mengurus adik-adiknya, sehingga orang tua Irfan kala itu harus bekerja keras.

Baca juga:

Ubah Mindset KKN dengan Pemikiran dan Suasana Gembira

Menteri Susi: Mahasiswa KKN Jangan Cuma Liburan dan Berburu Foto

Memaparkan tentang KKN-PPM UGM kepada Menteri Susi Pudjiastuti di Bandara Adi Sutjipto untuk memberikan sambutan saan penerjunan KKN-PPM UGM pada Jumat (28:6:2019) di Lapangan Pancasila. Foto: Irfan
Memaparkan tentang KKN-PPM UGM kepada Menteri Susi Pudjiastuti di Bandara Adi Sutjipto untuk memberikan sambutan saan penerjunan KKN-PPM UGM pada Jumat (28:6:2019) di Lapangan Pancasila. Foto: Irfan

Sering Berkelahi Semasa Sekolah

Dikisahkan oleh Irfan, saat dirinya masih duduk di bangku SD beberapa kali ia berkelahi dengan temannya di sekolah.

Namun, pengalaman inilah yang membentuk jiwa Irfan, salah satunya nilai-nilai tentang fairness.

Memasuki bangku SMP, Irfan masuk ke sekolah dengan mayoritas siswanya yang beretnis China.

Lagi-lagi Irfan juga berkelahi di sana.

Tetapi, kali ini banyak teman-teman di sekolah yang membelanya.

Dari pengalaman ini, ia belajar bahwa jika tulus berteman tak akan memandang perbedaan.

Lulus dari bangku SMP, Irfan kemudian melanjutkan sekolah di SMA negeri.

Kali ini Irfan sudah mulai terbawa kompetisi dan bersikap gentle, sehingga sudah jarang berkelahi.

Namun, ia tak akan tinggal diam, jika ada seseorang yang tak berperilaku baik dan merugikan orang lain.