Feses Hewan Tidak Menghentikan Keinginan Belajar

33
Feses Hewan Tidak Menghentikan Keinginan Belajar.(Foto: Thovan)
Feses Hewan Tidak Menghentikan Keinginan Belajar.(Foto: Thovan)
KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Fakultas Peternakan terkenal dengan serangkaian praktikum yang melibatkan feses hewan. Namun, hal itu tidak menghentikan Agung Dimyati untuk belajar di Program Studi Ilmu dan Industri Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.
Pada SBMPT 2015, Dimyati memilih Prodi Ilmu dan Industri Peternakan sebagai pilihan pertama. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. “Saya berasal dari desa. Oleh karena itu, dengan belajar di Fakultas Peternakan, saya ingin mengembangkan peternakan di pedesaan sehingga masyarakat lebih baik dalam mengelola ternak mereka,” ungkap Dimyati.
Dimyati berpandangan bahwa manusia selalu membutuhkan pangan. Karena itu, ia menerangkan, ilmu tentang peternakan sangat berpeluang untuk dikembangkan.
Dimyati mengakui bahwa belajar di Fakultas Peternakan dipenuhi oleh praktik. Namun, praktik yang kerap bersingungan dengan feses sapi, kambing, ataupun unggas tersebut tidak mengganggu Dimyati.
“Bagi saya, bersingungan dengan feses hewan ternak itu hal yang biasa. Karena saya berasal dari desa di mana orang tua saya memiliki ternak sapi dan ayam, saya sudah terbiasa,” ungkap Dimyati.
Menurut Dimyati, ketika bertemu dengan alumni Fakultas Peternakan, para alumni juga pernah mengalami praktikum yang berhubungan dengan feses hewan seperti dirinya. “Kurang lebih cerita praktikum mereka sama seperti saya,” ungkap Dimyati.
Senada dengan Dimyati, Muhammad Irfan Hafidz mahasiswa Peternakan angakatan 2016 tersebut kini mengabdikan diri sebagai asisten praktikum. Menurutnya interaksi dengan feses ternak bukanlah suatu masalah, malah sesuatu yang wajar bagi mahasiswa Peternakan bahkan sangat dibutuhkan.
“Menurutku itu merupakan hal yang wajar karena tai merupakan salah satu produk hasil ternak yang masih memiliki nilai jual. Meskipun dia masuk ke dalam kategori limbah yang mengganggu kebanyakan orang karena menghasilkan bau-bau yang tidak sedap,” ungkapnya.
Irfan beranggapan bahwa membiasakan untuk tidak jijik itu penting. Hal itu dikarenakan baik di kampus maupun di dunia kerja, ahli peternakan dituntut agar profesional dengan apa yang digelutinya. Apalagi tujuan dari praktikum itu sendiri salah satunya adalah mencegah dan menangani efek negatif dari feses hewan.
“Emang sih kotoran ternak bisa menimbulkan beberapa penyakit, tapi di dalam kuliah dan praktikum kita diajarkan untuk mengolah Hal tersebut agar tidak menimbulkan efek negatifnya,” Pungkas Irfan.(Thovan)