Suka Duka Mahasiswa Fakultas Peternakan

4381
Suka Duka Mahasiswa Fakultas Peternakan.(Foto: Thovan)
Suka Duka Mahasiswa Fakultas Peternakan.(Foto: Thovan)
KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Mahasiswa Fakultas Peternakan, Agung Dimyati, mengaku senang bisa belajar di Program Studi Ilmu dan Industri Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Pada SBMPT tahun 2015, Dimyati memilih prodi tersebut sebagai pilihan pertama.
Meskipun disibukkan oleh praktikum-praktikum yang kerap melibatkan feses hewan, Dimyati merasa senang. Ia merasa beruntung karena bisa langsung praktik di lapangan. “Mahasiswa Fakultas Peternakan UGM itu beruntung. Soalnya, tidak semua fakultas peternakan di Indonesia memiliki fasilitas peternakan dan kandang ternak di dalam dan di luar kampus,” terang Dimyati.
Menurut Dimyati, fasilitas di dalam dan di luar kampus yang dimiliki oleh Fakultas Peternakan UGM sudah cukup mewakili praktik beternak yang sesungguhnya. Namun, praktik di Fakultas Peternakan masih memiliki kendala. Dimyati mengatakan, salah satu kendala terkait dengan penjadwalan praktikum.
Selain itu, kendala lainnya, menurut Dimyati, berkaitan dengan laporan praktikum. Beberapa laporan praktikum berbentuk ruwet dan bertele-tele. “Ada laporan praktikum yang masih harus ditulis tangan dan masih harus direvisi lagi ketika dikumpulkan. Menghabiskan kertas dan uang untuk cetak,” ungkap Dimyati.
Akan tetapi, Dimyati mengatakan, ada juga laporan praktikum yang dikumpulkan dalam bentuk yang lebih efisien. “Laporan Praktikum dikumpulkan dalam bentuk softfile, berisi inti dari praktikum yang dilakukan. Nanti kalau sudah selesai direvisi dan disetujui asisten praktikum, baru dikumpulkan,” ucap Dimyati.
Ditemui di waktu yang berbeda, Muhammad Irfan Hafidz  salah satu asisten praktikum menjelaskan bahwa biasanya mahasiswa baru cukup kesulitan ketika pertama praktikum.
“Yaa kebanyakan dari mereka masih kosong tentang dunia peternakan. Ini yang bisa dibilang agak susah karena untuk menjelaskan beberapa materi dalam bidang peternakan itu perlu ada sedikit wawasan. Kalo mereka masih belum punya gambaran berarti sebelum masuk ke materi biasanya diberikan gambaran awal secara singkat terlebih dahulu,” jelas Irfan.
Irfan sendiri mengaku memilih menjadi asprak (asisten praktikum) karena ingin menambah pengalaman yang tidak didapat mahasiswa peternakan lainnya. “Karena menjadi asprak itu selain mengisi CV, bisa mendapatkan ilmu yang lebih dibandingkan dengan yang tidak dan membantu untuk fokus pada minat atau pilihan yang kita sebagai mahasiswa peternakan inginkan,” Ungkap Irfan.
Dimyati berharap ke depannya penjadwalan praktikum di Fakultas Peternakan dilakukan dengan lebih baik melalui akademik. Dimyati juga berharap laporan praktikum dapat dikumpulkan dalam bentuk softfile. “Sehingga lebih hemat kertas dan biaya,” ujarnya.(Thovan)