Cerita Bambang Purwoko Mendidik dan Tinggal Bersama Anak-anak Papua

328

Baca juga: Robot Terbang UGM Raih Peringkat Ketiga Kompetisi UAV di Turki

Ia terus memberikan intervensi positif melalui pendidikan, termasuk budi pekerti, unggah-ungguh, pemahaman budaya, sampai ke hal-hal kecil lainnya kepada anak-anak Papua.

Menurut Bambang, peristiwa kerusuhan yang terjadi terakhir kali itu karena ketidakpahaman di era arus informasi yang begitu cepat.

“Dengan GTP ini, kami membangun Papua dengan hati dan kasih. Di rumah tadinya yang tinggal ada delapan sekarang tinggal empat. Tidak semua siap situasi sekolah. Tapi, dengan segala hal kita usahakan yang terbaik untuk merengkuh mereka. Kita datangkan guru untuk menemani belajar,” ujar alumnus UGM angkatan 1981 itu.

Dikatakan Bambang, selama mereka belum bisa menyadari kondisi dan memutuskan sesuatu secara dewasa, dirinya membatasi interaksi dengan potensi-potensi gangguan.

Faktor lainnya, tidak semua masyarakat mau menerima mereka.

Baca juga: Kemenhub Kebut Pembangunan Konektivitas dan Aksesbilitas Transportasi Joglosemar

Bambang menjamin anak-anak Papua yang tinggal bersamanya adalah anak-anak yang baik.

“Seperti anak Papua yang tinggal di Cangkringan, masyarakat di sana semua menerima. Walaupun bagi anak-anak Papua belum sepenuhnya mereka bisa bersosialisasi, masih ada kecurigaan. Karena, memang pikiran mereka sudah dikotori oleh hasutan para seniornya. Jadi sikap lugu anak-anak itu luntur karena hasutan berbagai macam media,” ujar Bambang.

Saat ini Bambang sedang memikirkan bagaimana membangun sekolah inklusif, supaya yang nantinya menjadi tenaga pendidik adalah guru-guru yang sudah memahami betul konteks sosial budaya Papua.

Dalam hal ini, mereka bisa memperlakukan dengan baik anak Papua yang sekolah di Jogja. (Kinanthi)

Baca juga: Menhub Minta UGM Fokus Riset Teknologi Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik