Cerita Bambang Purwoko Mendidik dan Tinggal Bersama Anak-anak Papua

329

Baca juga: Gugus Tugas Papua UGM dan Wahid Institute Kerja Sama Wujudkan Papua Lebih Damai dan Maju

”Saya coba pahami kebiasaan mereka. Saya banyak bergaul dengan mereka secara personal,” ujar Kepala Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerja Sama (PPKK) FISIPOL UGM itu.

Mahasiswa asal Papua yang dididik Bambang sering juga datang ke rumah untuk belajar.

Bersamaan dengan itu, mulai ada kerja sama untuk kegiatan riset dengan Pemerintah Papua.

Pada 2006, Bambang bersama Departemen membantu melakukan kajian untuk pemekaran Kabupaten Puncak, Papua.

Dengan serangkaian proses panjang, Kabupaten Puncak akhirnya resmi menjadi kabupaten sendiri terpisah dari Kabupaten Puncak Jaya.

Bambang bersama anak-anak Papua dan rohaniawan, dalam sebuah ramah tamah. Foto: GTP UGM
Bambang bersama anak-anak Papua, Prof. Sasmina Yasmeen (dosen dan peneliti UWA’s School of Social Sciences) dan tamu dari Australia dalam sebuah ramah tamah. Foto: GTP UGM

Baca juga: Konflik Papua Kian Masif di Tengah Gencarnya Pembangunan, Mengapa?

Setelah itu, Bambang kembali membantu warga Papua dalam penyusunan master plan.

Ketertinggalan Pendidikan Jadi Salah Satu Persoalan

Dijelaskan Bambang, saat persiapan Pilkada sampai munculnya konflik di Papua pun, pejabat pemerintah di Papua masih intens berkomunikasi dengan Bambang.

Dirinya makin sering berkunjung ke sana baik secara pribadi maupun dalam rangka tugas kerja.

Sampai akhirnya ia diberi amanah untuk menjadi Ketua Tim Percepatan Pembangunan Kabupaten Puncak.

“Sejak saat itu, Saya mulai banyak riset tentang Papua termasuk untuk disertasi saya. Berangkat dari pertanyaan ‘apa sih akar masalah ketertinggalan Papua?’ Di luar itu, yang Saya temukan adalah ketertinggalan pendidikan. Tertinggal bukan berarti terbelakang,” tandas dosen Departemen Politik Pemerintahan UGM ini.

Baca juga: Gugus Tugas Papua UGM Kirim 186 Guru ke Papua