Anak Buruh Bangunan Berhasil Kuliah di UGM

29
Prestasi akademis yang baik disokong tekad kuat serta kerja keras membuat Rakhmat Eko Saputro (18) diterima kuliah di Program Studi Teknik Nuklir Fakultas Teknik UGM. Foto : Humas UGM
Prestasi akademis yang baik disokong tekad kuat serta kerja keras membuat Rakhmat Eko Saputro (18) diterima kuliah di Program Studi Teknik Nuklir Fakultas Teknik UGM. Foto : Humas UGM

KAGAMA.CO, BATAM – Rasa haru bercampur bahagia dirasakan keluarga Amnidi (53) tatkala mengetahui putera sulungnya, Rakhmat Eko Saputro (18), diterima kuliah di Program Studi Teknik Nuklir Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Dia dan isterinya Ermida (46) tidak pernah menyangka anaknya itu bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi bahkan tanpa dipungut biaya hingga lulus nantinya dengan beasiswa Bidikmisi.

“Kaya gak percaya bisa sampai seperti ini, saya yang buruh bangunan dan hanya lulusan SMP akhirnya bisa melihat Eko masuk kuliah,” ungkapnya saat ditemui tim Humas UGM di rumahnya yang berada di kawasan Kavling Lama Batu Aji Permai Blok D No.25, Kelurahan Sungai Lekong, Kecamatan Sagulung, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (26/7/2019).

Sebelum tinggal di rumah itu, Amnidi dan keluarganya menghuni rumah liar atau yang kerap disebut ruli yang berada daerah Muka Kuning Kampung Ace, Batam.

Namun pada tahun 2006 kawasan tersebut dilanda banjir besar yang turut merubuhkan rumah kayu yang ditempatinya.

Sementara tinggal di pengungsian, Amnidi secara bertahap membangun rumah sederhana diatas lahan 10×10 meter.

“Saya bangun sendiri rumah ini sedikit demi sedikit,” jelasnya.

Amnidi menuturkan menyekolahkan anak hingga jenjang perguruan tinggi bukanlah hal yang mudah ditengah keterbatasan perekonomian keluarga.

Penghasilannya dari bekerja sebagai buruh bangunan sekitar Rp3 juta per bulan sangatlah pas-pasan untuk menghidupi isteri dan dua puteranya.

“Jadi buruh bangunan kerjanya ya gak tentu, tergantung proyek.”

“Kalau ada proyek ya kerja kalau tidak ada ya dirumah saja,” tutur Amnidi.

Amnidi, orangtua Rakhmat Eko Saputro, amat bangga dengan keberhasilan putranya diterima kuliah di UGM. Foto : Humas UGM
Amnidi, orangtua Rakhmat Eko Saputro, amat bangga dengan keberhasilan putranya diterima kuliah di UGM. Foto : Humas UGM

Bahkan dia pernah merasakan kerja namun tidak dibayar.

Kerja keras yang diniatkan untuk menghidupi keluarga kecilnya itu serasa tidak berguna.

“Pernah ikut proyek tapi mandornya kabur jadinya duit gak keluar dan gak bayaran.”

“Risiko kerja ikut orang seperti itu,” katanya.

Amnidi berkisah dirinya pernah menganggur hingga dua bulan lamanya.

Sementara saat itu dia harus membiayai anak bungsunya yang akan masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Momen itu menjadi masa berat baginya, tapi Tuhan tidak pernah tidur karena selalu ada jalan yang dibukakan bagi para hamba-Nya yang selalu berusaha.

Di tengah kondisi yang serba sulit, Eko berhasil meraih juara  Olimpiade Astronomi 2018 Tingkat Provinsi Kepulauan Riau dan menjadi wakil untuk berlaga di tingkat nasional.

Prestasi itu membawa kebanggaan bagi keluarga dan daerahnya.

“Menang lomba Eko dapat uang saku dan itu digunakannya untuk membantu membiayai keperluan adiknya masuk SMP,” ucap Amnidi menahan haru.

Dia menuturkan Eko merupakan anak yang berprestasi di sekolah.

Saat Sekolah Dasar (SD) selalu rangking 1 dan SMP serta Sekolah Menengah Atas (SMA) masuk tiga besar di kelas.

Selain itu juga mengikuti sejumlah perlombaan yang diadakan oleh berbagai institusi.

Beberapa prestasi yang tercatat antara lain peringkat tiga Porseni Puisi Tingkat Kota Batam 2015, juara Debat Agama Islam Tingkat Provinsi Kepulauan Riau 2018, peringkat tiga nasional dalam Kompetisi Riset Institut Teknologi Bandung 2018, dan juara Olimpiade Astronomi Tingkat Provinsi Kepulauan Riau 2018.

Ketika ditemui di kediamannya, Amnidi hanya seorang diri.

Sang isteri saat itu tengah berada di Singapura.

Isterinya bekerja serabutan membantu memasak dan mencuci piring di sebuah restoran yang ada di Singapura.

“Ini isteri sedang di Singapura, dua minggu di sana bantu kerja di restoran,” ungkapnya.

Sementara itu, Eko sudah berada di Yogyakarta sejak sebelum bulan puasa.

Selama kuliah nanti anaknya akan menumpang di rumah sang bibi hingga lulus kuliah.

Amnidi berharap nantinya Eko bisa menjalani kuliah dengan lancar dan lulus tepat waktu.

Hanya iringan doa yang bisa dia berikan untuk kesuksesan anaknya kelak.

“Belajar yang benar dan tidak usah pulang sebelum berhasil.”

“Kami di sini selalu berdoa agar kuliah bisa lancar dan nantinya menjadi orang sukses,” harap Amnidi.

Sebelumnya saat ditemui di Kampus UGM, Eko mengaku keinginan untuk bisa kuliah telah ada sejak kecil.

Karenanya dia tekun belajar agar bisa berprestasi dan akhirnya dapat masuk UGM lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) undangan dan mengajukan beasiswa Bidikmisi sehingga bisa meringankan beban keluarga.

“Saya ingin kuliah sudah sejak SMP dan orangtua sebenarnya mendukung.”

“Kendalanya kami ini hanya dari keluarga yang biasa-biasa saja sementara biaya kuliah sangat besar,” tutur alumni SMA 1 Batam ini.

Namun pengagum karya-karya Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono ini tidak pernah patah arang.

Dengan segala keterbatasan keluarga dia terus berjuang menggapai mimpi-mimpinya.

Tak sekalipun merasa malu atau pun berkecil hati dengan keadaanya saat ini.

“Saya tidak pernah minder meski bapak buruh bangunan.”

“Justru sangat bangga bapak yang buruh bangunan bisa menyekolahkan saya sampai ke UGM, ini luar biasa,” katanya penuh kebanggaan.

Ketekunannnya dalam belajar dan doa orangtua akhirnya berbuah manis.

Apa yang dicita-citakan Eko akhirnya terwujud.

“Jangan pernah menggapai mimpi, kalau kita sungguh-sungguh pasti akan ada jalan,” sebutnya.

Eko adalah satu dari ribuan anak bangsa yang lahir dari keluarga kurang mampu.

Kendati begitu, dia berhasil membuktikan keterbatasan ekonomi tidak menjadi halangan untuk menggapai pendidikan setinggi-tingginya. (Humas UGM/Ika)