Merawat Identitas Ala Fajar Wijanarko

586

“Keraton baru buat goodnews. Saat itu ada peristiwa sabda raja dan kemudian dipolemikkan oleh rakyat, karena belum adanya informasi jelas tentang Keraton ke masyarakat,” jelasnya.

Sebelum adanya media sosial, Keraton menjadi institusi yang eksklusif.

Menurut Fajar, adanya gagasan dari Gusti Hayu untuk mendekatkan Keraton kepada masyarakat lewat ruang-ruang yang dipersempit dengan media sosial adalah ide yang cemerlang.

Alhasil, lewat inovasi tersebut, berita dan informasi yang valid tentang Keraton menjadi kemudahan bagi masyarakat.

Berita yang simpang siur sudah mulai berkurang.

“Hasilnya sampai sekarang Keraton sangat terbuka,” tandas alumnus Sastra Nusantara angkatan 2010 ini.

Keterlibatan Fajar dalam kegiatan Keraton membawanya memasuki pekerjaan sebagai seorang arsiparis dan kurator naskah kuno di Museum Sonobudoyo.

Fajar merasa ilmunya bermanfaat. Menurutnya, ini sekaligus jalan hidupnya kembali ke kampus dan kembali ke dunia akademis.

It’s not a simple like everyone think. Karena dalam menulis informasi tentang Keraton kami mempunyai dua layer editor yang akan mengoreksi informasi dan tata bahasanya,” tambahnya.

Memberikan informasi yang valid serta menjelaskan ketabuan yang mengada-ada di masyarakat adalah tantangan baginya.

Kurator dalam pameran Museum Sonobudoyo di tahun 2017 dan 2018 ini juga sedang proses apply scholarship untuk melanjutkan studi master di luar negeri.

“Jika tahun ini saya diterima di Australia, maka Sonobudoyo saya lepas.”

“Tetapi untuk Keraton tetap karena di sana sifatnya fleksibel,” jelasnya.

Sebelum benar-benar lepas nantinya jika diterima di jenjang magister di Australia, Fajar menginginkan semua naskah kuno atau manuskrip di Sonobudoyo dapat diteliti dan dirawat oleh para peniliti.

“Menjaga manuskrip yang sebenarnya adalah membaca dan menelitinya.”

“Biarlah usia akan merusaknya, tetapi ilmu dan sejarahnya tetap ada,” tuturnya.

Sadar hidup di dunia akademis, Fajar memiliki prinsip untuk selalu membagikan ilmu dan bercita-cita menjadi dosen.

Dimas Diajeng Jogja pada 2014 ini berpesan kepada para peneliti budaya muda agar merawat sejarah dan kebudayaan.

“Rawat apa yang saat ini menjadi identitasmu, yakni kebudayaan dan sejarah yang mana dua unsur ini bukan warisan, tetapi kita pinjam dari generasi sebelumnya,” pungkasnya. (Sirajuddin)