TNI Angkatan Laut Garda Depan Amankan Poros Maritim Dunia

157
Asisten Operasi Kasal Laksamana Muda TNI Dadi Hartanto mewakili Kasal Yudo Margono untuk berbicara di Maritime Road Map 2045 Symposium yang digelar International Sea Port. Foto: KAGAMA.CO/ISPEC
Asisten Operasi Kasal Laksamana Muda TNI Dadi Hartanto mewakili Kasal Yudo Margono untuk berbicara di Maritime Road Map 2045 Symposium yang digelar International Sea Port. Foto: KAGAMA.CO/ISPEC

KAGAMA.CO, JAKARTA – Dalam mendukung dan mewujudkan agenda Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia maka TNI AL adalah kompenen utama pertahanan laut sekaligus penegak hukum di laut.

Apalagi 84 persen jalur perdagangan dan logistik dunia itu berada di laut dan 60 persen berada di perairan Indonesia, seperti Selat Malaka.

Selain jalur logistik, laut juga menjadi jalur komunikasi, sumber kekayaan alam seperti perikanan, serta pertambangan minyak dan gas bumi.

Tampil mewakili Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono sebagai narasumber di Maritime Road Map 2045 Symposium yang digelar International Sea Port Exhibition and Conference (ISPEC), Kamis (22/9/2022), di Jakakarta, Asisten Operasi Kasal Laksamana Muda TNI Dadi Hartanto memaparkan adanya ancaman tradisonal dan ancaman nontradisional terhadap Indonesia.

Baca juga: Koentjoro Membangun Legacy Lewat Jalan Tol Trans Sumatera

Ancaman tradisional meliputi konflik terbuka dan spill over conflict atau konflik yang terjadi karena dampak dari kebijakan ataupun gejolak ekonomi suatu negara.

Ancaman nontradisional seperti pelanggaran wilayah, serangan siber, bencana alam, wabah penyakit, kekerasan di laut, kecelakaan di laut, illegal, unreported and unregulated (IUU) fishing, pembajakan, imigran gelap, penyelundupan (narkoba, kayu, BBM, hasil tambang, satwa langka), hingga pencemaran di laut serta sampah plastik.

Indonesia memiliki konsep Strategi Pertahanan Laut Nusantara dan Analogi Pertahanan Laut Indonesia.

“Strategi Pertahanan Laut Nusantara berdasarkan UU Nomor 3 Tahun 2002 Pasal 3 (2) tentang Pertahanan Negara menyatakan bahwa pertahanan negara disusun dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.”

Baca juga: Sri Sultan HB X: Untuk Wujudkan Poros Maritim Dunia, Indonesia Perlu Empat Kekuatan Ini

“Lantas, Analogi Pertahanan Laut Indonesia, jika kita terpaksa harus bertarung, hindari pertarungan di dalam rumah sendiri. Sebab, menang sekalipun rumah akan hancur berantakan dan keluarga menjadi korban. Bila terpaksa harus bertarung, kalahkan musuh di batas terluar pekarangan kita,” jelas Dadi.

Dia juga mengemukan perspektif keamanan laut adalah laut bebas dari ancaman kekerasan, ancaman navigasi, ancaman pelanggaran hukum, serta ancaman terhadap sumber daya laut.

Guna menegakkan kedaulatan dan hukum di laut, Dadi menyatakan bahwa Indonesia masih perlu menambah serta modernisasi armada lautnya.