Konsep New Normal dalam Pandangan Orang Jawa

1250
Dosen Sastra Jawa UGM, Rudy Wiratama, M.A., menerangkan pandangan orang Jawa dalam melihat new normal. Foto: Ist
Dosen Sastra Jawa UGM, Rudy Wiratama, M.A., menerangkan pandangan orang Jawa dalam melihat new normal. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Dalam naskah pewayangan Cariyosipun Dhalang Karungrungan, pageblug ditandai dengan kemunculan sosok Batara Kala.

Menurut Dosen Sastra Jawa UGM, Rudy Wiratama, Batara Kala sebetulnya adalah penjelmaan dari Kama (benih) dari dewa.

Saat turun ke bumi Kama bisa menjadi raja atau penguasa lainnya.

Namun, karena waktu turunnya ke dunia tidak tepat, dia lantas berubah menjadi virus dan penyakit. Belakangan orang menyebutnya dengan Kama Salah.

“Batara Kala sebenarnya bukan raksasa yang kejam karena dia tidak memakan yang bukan jatahnya,” kata Rudy dalam webinar Pageblug dalam Kesusastraan Jawa yang digelar Badan Pelestarian Nilai Budaya DIY, belum lama ini.

Baca juga: Dubes Djauhari Ungkap Bisnis Baru yang Bisa Muncul Usai Pandemi Virus Corona

“Batara Kala adalah dewa lumaku sedina-dina. Artinya, dia selalu setia pada tupoksi dan bekerja sesuai petunjuk pelaksanaan,” jelasnya.

Menurut Rudy, saat pageblug terjadi, Batara Kala tidak memakan korban seluruh manusia di dunia. Namun, hanya beberapa golongan orang yang dimakan olehnya.

Golongan-golongan itu seperti anak lahir yang membawa dosa sukreta, manusia dengan dosa pangucap-ucap (tidak berhati-hati dalam ucapannya), dan orang yang punya dosa wing keneng sarik (tidak menjaga kebersihan lingkungan).

Kata Rudy, hanya dosa sukreta yang bisa dimaafkan dengan menggelar ruwatan.

Sedangkan dua dosa yang lain hanya bisa dimaafkan bila disertai upaya pribadi untuk berhenti dari kebiasaan kurang baik.

Baca juga: Subejo: Banyak Sektor Mandek, BUMDes Mesti Lakukan Inovasi