Kamis, 20 Juni 2024 | 19:42 WIB

Kiat Menjadi Coaching Bagi Anak Agar Mampu Hadapi Situasi Sulit

Baca juga: Tingkatkan Produktivitas Anak, KAGAMA Bali Gelar Kegiatan Mewarnai dan Menggambar Secara Virtual

Mendengarkan berbeda dengan mendengar. Mendengar cenderung pada tindakan pasif, sedangkan mendengarkan adalah tindakan aktif yang membutuhkan perhatian berlapis-lapis.

“Jadi yang diperhatikan tidak hanya kata-kata yang disampaikan anak. Tetapi, melihat emosi yang tersimpan dari cara anak menyampaikan kata-kata tersebut.”

“Untuk itu, orang tua juga harus peka dengan apa yang disampaikan anak. Ketika mendengarkan, kita jangan memberi label atau kemudian berasumsi. Tetapi, kita netral dan tidak berpikir apapun,” ungkapnya.

Menurutnya, salah satu yang memprihatinkan saat ini adalah banyak orang tua yang bisa berbicara, tetapi tidak bisa mendengarkan. Mudah menilai, tetapi tidak bisa memahami.

Agar anak menjadi pribadi yang tangguh dan memiliki karakter yang positif, tidak ada cara lain yang efektif selain mendengar dengan baik dan mengajukan pertanyaan yang menginspirasi anak untuk berpikir.

“Dengan mendengar dan bertanya, orang tua bisa mengidentifikasi perasaan dan keinginan anak, serta tindakan yang dipilih untuk membuat mereka bergerak maju,” ujarnya.

Pertanyaan berbobot akan mendorong anak memahami situasi yang dialaminya, serta menemukan penyelesaian sendiri atas masalahnya.

Baca juga: Indonesia Bisa Menjadi Rumah Alternatif bagi Industri Manufaktur Dunia

Untuk bisa memberikan pertanyaan yang berbobot, orang tua harus mendengarkan keluh kesah anak secara aktif.

Pertanyaan berbobot merupakan jenis pertanyaan terbuka. Bisa dimulai dengan kata “apa”, “seberapa”, “bagaimana”, “siapa”, “kapan”, dan “di mana”.

“Di samping itu, pertanyaan berbobot umumnya selalu berusaha menggali situasi anak lebih dalam. Pertanyaan berbobot membuat percakapan bergerak ke depan,” tutur Nana.

Sedangkan pertanyaan tidak berbobot, biasanya berasal dari judgement atau asumsi. Kata pertanyaan yang digunakan adalah mengapa.

Pada umumnya, ketika anak dilontarkan pertanyaaan dengan “mengapa”, akan muncul blaming, excuse, atau justify.

“Pertanyaan dikatakan tidak berbobot jika mengarahkan pada solusi tertentu atau membuat percakapan bergerak mundur, kaitannya dengan mengulik masa lalu,” jelasnya.

Menjadi coach yang baik, kata Nana, berkaitan dengan fungsi otak manusia. Secara teoritis, otak manusia ber-evolusi melalui tiga fase yakni reptilian brain, limbic system, dan neocortex.

Ketika hubungan orang tua dan anak tidak baik, kemudian anak merasa diinterogasi, maka bagian otak anak yang bereaksi adalah reptilian brain.

“Sebab, otak reptil ini merupakan naluri primitif manusia, seperti bertahan hidup, makan, memuaskan hasrat, dan melindungi diri jika terancam. Jadi ini yang harus ditekan, agar anak lebih terbuka pada orang tua,” ujarnya.

Ada lagi limbic system atau otak mamalia, ini berperan besar mengendalikan emosi dan perasaan.

Lalu neoportex, ini bagian otak yang tidak dimiliki binatang. Neoportex memungkinkan manusia untuk mampu belajar, berpikir, berbicara, dan menulis.

Nana menyarankan agar orang tua bisa membangun hubungan yang baik dengan anak, termasuk aktif mendengarkan dan kuat dalam memberikan pertanyaan.

“Ketika hubungan tidak baik, maka tidak akan tercipta kepercayaan. Anak pada akhirnya akan lari. Orang tua jangan lupa untuk peka terhadap anak,” pungkasnya. (Kn/-Th)

Baca juga: Perkembangan Emosi Pengaruhi Kenyamanan Belajar Anak di Rumah


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA