Rabu, 29 Mei 2024 | 10:07 WIB

Pemuka Arwah Tanah Jawa Berkumpul di Kraton Surakarta saat Malem Selikuran Ramadan

Baca juga: Lewat Gerakan #GiziUntukMedis, KAGAMA Muda Sediakan Bantuan Makanan Bagi Tenaga Medis di Tabanan

“Abdi dalem garap yaitu petugas kraton yang memiliki profesi tetap. Mereka adalah pegawai kraton dengan tugas rutin,” kata Purwadi.

“Abdi dalem bahu tukon adalah pekerja dengan kontrak khusus. Mereka semacam tenaga honorer. Hak dan kewajibannya sesuai dengan kesepakatan.”

“Sedangkan abdi dalem anon-anon (warga kehormatan) adalah pribadi yang secara sukarela menyumbangkan tenaga dan pikiran buat kraton,” terangnya.

Pria kelahiran 1971 ini menyambung, seluruh abdi dalem menggunakan busana kejawen jangkep.

Yakni beskap lengkap dengan keris dan blangkon. Acara pun dimulai pada pukul 20.00 saat satu per satu arak-arakan ritual dipertontonkan. Total ada enam arak-arakan ritual dalam Malam Selikuran.

Pertama dari Barisan Prajurit, yang berada di barisan terdepan. Mereka membunyikan drum band serta gamelan carabalen.

Kedua dari Barisan Semut Ireng, yang merupakan bergada (prajurit). Mereka, kata Purwadi, bercelana dan berkemeja hitam, serta mengenakan blangkon. Karawitan Gagrak Surakarta dimainkan oleh barisan ini.

Baca juga: KBRI Beijing Perkuat Pengetahuan Tenaga Medis Covid-19 Indonesia via Seminar bersama Pakar Tiongkok

“Barangkali barisan semut ireng selalu mengingat ajaran leluhur, tembang dhandhanggula semut ireng,” tutur Purwadi.

“Tembang dhandhanggula tersebut memberi semangat, agar semua abdi dalem mempunyai harapan untuk menyongsong masa depan,” jelas sosok berkacamata ini.

Ketiga, adalah Barisan Lampu Hias. Mereka membawa petromax, strong king, ting, teplok, dan lampu obor. Khusus untuk abdi dalem dari pedesaan, kata Purwadi, dianjurkan menyalakan colok.

“Colok atau obor yang terang benderang dinyalakan di pinggir pintu, regol, gapura, pawuhan, dapur, senthong dan pojok rumah,” ucap Purwadi.

“Seolah-olah mereka berpesta pora dengan makhluk halus di sekitar rumah, untuk menyapa harmoni,” terangnya.

Keempat, ada arak-arakan Laras Madya atau Santiswara. Purwadi mengatakan, Laras Madya adalah seni khas keislaman yang dipunyai kraton Surakarta.

Dalam arak-arakan ini, syair dari Serat Wulangreh, Centhini, Wira Iswara dibacakan. Diiringi instrumen kendang, terbang, jedhor, dan kemanak.

Baca juga: Islam Pernah Dipertimbangkan sebagai Agama Negara di Rusia


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA