Jumat, 24 Mei 2024 | 23:24 WIB

Membaca Sejarah Tradisi “Berzanjen” di Banyuwangi

Baca juga: Suka Meneliti, Aurelia Virgita Jadi Lulusan Terbaik Magister Psikologi UGM

Fenomena itu ditandai dengan lahirnya teks-teks saduran dalam bentuk prosa lirik.

Nah, sejauh ini ada dua bentuk prosa lirik yang lahir dan berkembang di Jawa.

Pertama adalah saduran versi Ahmad Abdul Hamid Al-Kendali dan yang kedua adalah versi Asrori Ahmad.

Kedua teks saduran tersebut dianggap sebagai bentuk resepsi atau penerimaan oleh mayarakat Jawa.

Lantas, dua teks saduran tersebut disajikan dalam bentuk seni petunjukan pada acara-acara keagamaan oleh masyarakat Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Baca juga: Pertimbangkan Hal Berikut Sebelum Memutuskan Kuliah Dua Jurusan

Pada pelaksanaannya, peringatan Mauid Nabi yang dilakukan masyarakat Banyuwangi tidak mesti mengambil hari tepat pada 12 Rabi’ul awal.

Namun, dapat dilaksanakan pada hari lain selama masih dalam bulan itu.

Ada pembagian dua kelompok dalam perayaan Maulid Nabi di Banyuwangi.

Kelompok pertama memebacakan teks Al-Barzanji di masjid atau musala.

Sementara itu, kelompok yang lain bertugas mengarak ndog-ndogan untuk dibawa keliling kampung dan berakhir di masjid atau musala tempat dibacakannya teks Al-Barzanji.

Sebagai informasi, ndog-ndogan adalah hiasan yang berisi telur ayam rebus yang ditancapkan pada potongan pohon pisang.

Pembacaan teks Al-Barzanji dan arak-arakan ndog-ndogan ditutup dengan acara inti, yaitu ceramah dari seorang mubaligh. (Tsalis)

Baca juga: Dokter Gigi Peraih IPK 4,00 Ini Tidak Ingin Kaya dari Profesinya


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA