Jumat, 24 Mei 2024 | 23:10 WIB

Membaca Sejarah Tradisi “Berzanjen” di Banyuwangi

Baca juga: Literasi Penting untuk Tangani Penderita Gangguan Kesehatan Mental

Sedangkan dalam bentuk puisi terdiri atas 16 pasal dengan 205 bait.

Produk sastra Arab ini berisikan tentang sejarah kehidupan Rasulullah yang disajikan dengan kata-kata indah bernuansa puji-pujian.

Dalam sastra Arab, karya sastra semacam ini disebut dengan istilah Maddah Nabawi.

Karya Ja’far Al-Barzanji ini ternyata diterima dengan antusiasme tinggi oleh masyarakat Arab pada sekitar 1200 H.

Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya karya-karya penyambut seperti Al-Kaukabul Anwar ‘ala ‘Iqdil Jauhar (bintang cemerlang di atas untaian permata) karya Ja’far bin Ismail, dan Al Qaulul Munji (perkataan yang menyelamatakan) karya Abdullah Muhammad Ulaisy.

Baca juga: Candu Masyarakat pada Uang Elektronik, Good Life atau Happines?

Namun demikian, Hasim belum menemukan keterangan yang memuaskan terkait pembacaan teks Al-Barzanji dalam perayaan Maulid Nabi yang menjadi tradisi muslim di Indonesia.

Hanya, dia menduga bahwa orang-orang Yaman dan pendakwah dari Kurdistan adalah sosok yang membawanya ke Indonesia.

Di sisi lain, pembacaan teks Al-Barzanji dilakukan tidak hanya pada perayaan Maulid Nabi, tetapi juga dalam berbagai kesempatan.

Seperti pada kelahiran anak, aqiqah, khitanan, acara pernikahan, hingga upacara pelepasan jamaah haji.

Dalam perjalanannya di Indonesia, khususnya di Jawa, teks Al-Barzanji mengalami transformasi nilai budaya.

Baca juga: KAGAMA Harus Ikut Membangun Bantul


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA