Kata Akademisi UGM Terkait Wacana Rektor Asing Pimpin Perguruan Tinggi Indonesia

587

Baca juga: Menyikapi Guncangan Ekonomi Digital di Dunia Keuangan dan Pasar Modal

Diaspora, kata Panut, banyak yang ingin bekerja di Indonesia.

Namun, jumlah upah yang diberikan membuat mereka berpikir ulang untuk kembali.

Diceritakan oleh Panut, mahasiswanya ada yang sudah menjadi associate professor di Tokyo dan Inggris.

Mereka menikmati pekerjaannya dan sangat produktif berkat fasilitas yang diberikan. Selain itu, mereka juga menikmati gaji yang cukup.

Nah kalau kita bisa menyiapkan fasilitas yang mereka dapatkan di sana dan digaji yang cukup, pasti mereka ingin pulang. Karakteristik orang Indonesia itu ‘ingin pulang’ ketika bekerja di luar negeri. Tetapi persoalannya yang sering Saya temui, mereka biasanya bertanya ‘Pak gaji saya jadi berapa? Ada nggak alat ini?’,” kata Panut.

Baca juga: Mahfud MD: Indonesia Perlu Manusia yang Terdidik

Sebagai gambaran, Panut bercerita singkat soal upaya peningkatan reputasi UGM semasa ia menjadi Dekan Fakultas Teknik dulu, sebelum menjabat sebagai rektor.

Kala itu ada orang yang mengajukan diri untuk menjadi Kepala Bidang Peningkatan Reputasi Dunia ke UGM.

Saat ditanya soal gaji, orang tersebut meminta gaji 200 juta.

Dengan gaji tersebut, ia berjanji meningkatkan reputasi perguruan tinggi.

“Itu baru kepala bidang, bukan rektor,” Panut mencontohkan.

Baca juga: Asmat, Panggung Budaya Indonesia di Papua

Penyediaan Fasilitas Pendukung Jadi Tantangan

Ide mendatangkan rektor asing, menurut Ir. Donny Widianto, Ph.D tidak salah.

Menurut dosen sekaligus Kaprodi S2 dan S3 Bioteknologi, Fakultas Pertanian UGM itu, hal tersebut dapat diterapkan, tetapi tidak sekarang.

Beberapa waktu lalu Donny berkunjung ke National University of Singapore (NUS) dalam rangka konsultasi penelitian, usaha membangun kerja sama, dan hal lain yang berkaitan dengan kepentingan Prodi Bioteknologi.

Dikatakan oleh Donny, universitas ini berada di rangking yang terbilang tinggi.

Ia kemudian mendatangi Life Science Institute, NUS yang direkturnya berasal dari Inggris.

Baca juga: KKN UGM Gandeng PP KAGAMA Kembangkan Kawasan Perkotaan Baru Rasau Jaya