Kata Akademisi UGM Terkait Wacana Rektor Asing Pimpin Perguruan Tinggi Indonesia

587

Baca juga: Siswa Papua Menggapai Asa

Donny menjelaskan, ilmuwan asal Inggris tersebut butuh waktu enam tahun untuk sampai di posisi direktur.

“Dalam enam tahun tersebut, syarat yang harus dipenuhi yaitu institut tersebut harus diberikan iklim infrastruktur yang mendukung, sehingga institut ini didatangi oleh orang-orang top. Dan dia bekerja bukan soal uang, karena passion, ingin mengimplementasikan idenya dengan nyaman dan bebas,” ungkap Donny.

Setelah enam tahun barulah para peneliti tersebut membiayai hidup sendiri.

Mereka mendapatkan rekognisi dan mendapatkan dana dari luar.

Baca juga: Dilema Pendidikan Papua

Bagaimana dengan Kesiapan PTN dari Segi Organisasi?

“Ide tersebut baik. Tetapi, how to implement-nya itu kaya apa? Siap nggak? Kalau saya lihatnya ide itu bagus, tetapi kalau langsung dilaksanakan ya keliru,” ujarnya.

Donny menjelaskan terkait pertanggung jawaban keuangannya, pihak kampus di sana memiliki tenaga administrasi sendiri untuk menata itu.

Sedangkan di Indonesia tidak demikian, organisasinya masih belum berjalan baik.

“Itu levelnya Singapura yang pendanaannya sudah cukup saja butuh waktu enam tahun. Lalu bagaimana dengan di sini?,” tandasnya.

Donny berpendapat, seringkali kita merencanakan sesuatu tidak realistis dengan keadaan dan prasayarat yang dimiliki.

Baca juga: Uniknya Perpeloncoan di Awal Berdirinya UGM

Indonesia Perlu Didorong Menjadi Bangsa yang Percaya Diri

Kedatangan rektor asing mungkin akan memudahkan universitas dalam hal kerja sama internasional dan bantuan dana.

Namun, di sisi lain harmonisasi juga tak kalah penting dengan profesor lokal maupun wakil rektornya.

Ia menekankan kepada masyarakat agar menjadi bangsa yang percaya diri.

Jangan serba tergantung dengan luar negeri atau bangsa asing.

Panut menambahkan, bangsa Indonesia itu bangsa yang hebat.

“Mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri itu disenangi pembimbingnya, karena rajin dan penurut. Rata-rata orang Indonesia begitu,” ujar Panut.

Andaikan perguruan tinggi di Indonesia mau memberikan kesempatan perguruan tinggi asing untuk beroperasi di sini dengan batasan-batasan tertentu yang diatur oleh Kemristekdikti, maka bisa menjadi sparring partner ke depannya.

Menurut Panut ini bisa menjadi salah satu ide yang baik. (Kinanthi)

Baca juga: Presiden Jokowi Dijadwalkan Hadiri Munas Kagama 2019