Ratusan Artefak Koleksi Museum Indonesia Dipamerkan di Liege, Belgia

295

KAGAMA.CO, DEN HAAG – Sebanyak 248 artefak dari koleksi Museum Nasional dan beberapa museum provinsi di Indonesia ditampilkan dalam pameran bertajuk Kingdoms of the Sea Archipel yang diselenggarakan 25 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018 di Museum La Boverie di Liege. Sedangkan beberapa museum provinsi yang turut berpartisipasi dalam pameran tersebut antara lain Museum di Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Jambi, dan Bali. Artefak dari masing-masing museum sudah ditampilkan pada pameran yang merupakan rangkaian event Festival Europalia Indonesia.

Sebelum pameran dibuka, pada Rabu (24/10/2017) diselenggarakan konferensi pers yang dimoderatori oleh Walikota Liege, Mr. Willy Demeyer. Konpers dihadiri para narasumber dari Indonesia, yaitu Dra. Intan Mardiana, mantan Direktur Museum Nasional yang bertindak selaku kurator dari pameran dan  Singgih Tri Sulistiono selaku peneliti sejarah maritim Indonesia dari Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah. Sementara, dari  Belgia hadir Mr. Dirk Vermaelen, koordinator kurator Europalia International dan Mr. Pierre Yves Manguin, konsultan peneliti arkeologi dari Ecole Francaise d’extreme Orient.

Pembuat kapal Padewakang didatangkan dari Sulawesi untuk memperagakan pembuatan kapal tradisional hasil budaya maritim Indonesia di Museum La Boverie, Liege, Belgia, tempat dilangsungkannya pameran 25 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018 [Foto ISTIMEWA]
Pembuat kapal Padewakang didatangkan dari Sulawesi untuk memperagakan pembuatan kapal tradisional hasil budaya maritim Indonesia di Museum La Boverie, Liege, Belgia, tempat dilangsungkannya pameran 25 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018 [Foto ISTIMEWA]
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Den Haag, Prof. Bambang Hari Wibisono dalam siaran pers menyampaikan, pameran dengan tema maritim  menjadi  event  penting dengan latar belakang bahwa sejarah dan peradaban bangsa Indonesia selalu lekat dan tidak lepas dari budaya maritim yang merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia. Pada kesempatan itu juga dibuat sebuah kapal Padewakang di museum tersebut. Para  pembuat kapal tradisional  didatangkan langsung dari Sulawesi. Kapal Padewakang  dipilih sebagai ikon budaya maritim di museum itu karena merupakan cikal bakal dari kapal Phinisi yang telah dikenal luas.

Padewakang adalah kapal tradisional hasil budaya maritim Indonesia sebelum akhirnya berkembang oleh pengaruh modern, yaitu kapal yang menggunakan mesin. Kapal dengan ukuran panjang 11 meter, tinggi 7 meter dan lebar 4 meter  dibangun di Museum La Boverie. Kapal tersebut merupakan kapal ketiga yang dibuat untuk ditampilkan di luar Indonesia setelah dua kapal sebelumnya dibangun dan dilayarkan ke Australia.

Sebagian peserta pameran dari Indonesia berfoto bersama dengan latar belakang kapal Padewakang [Foto ISTIMEWA]
Sebagian peserta pameran dari Indonesia berfoto bersama dengan latar belakang kapal Padewakang [Foto ISTIMEWA]
“Pameran berupaya menggambarkan warisan sejarah maritim yang tersebar di seluruh Indonesia. Pameran memiliki beberapa tahap sejarah maritim dari periode Ancient (3000 SM hingga awal Masehi), periode Pra-Modern (awal Masehi hingga abad ke-16), periode Awal Modern (abad 16-18 M) hingga periode Modern (abad 18 hingga sekarang),” terang Bambang.