Tradisi Luru Duit, Bentuk Eksploitasi Seks Komersial pada Anak

218
Mereka juga tak tanggung-tanggung meminta bantuan dukun agar sukses menjadi luru duit. Foto: beritabatavia.com
Mereka juga tak tanggung-tanggung meminta bantuan dukun agar sukses menjadi luru duit. Foto: beritabatavia.com

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR– Salah satu faktor penyebab maraknya prostitusi anak yaitu nilai-nilai tradisi dan kuasa dari orang tua.

Indramayu, Jawa Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mempunyai tradisi anak dilacurkan.

Bahkan, Indramayu menjadi sala satu daerah pengirim anak untuk dilacurkan di berbagai kota besar di Indonesia.

Kebiasaan ini dikenal dengan istilah luru duit.

Singkat sejarah, luru duit erat kaitannya dengan sejarah pembentukan Indramayu, sebagai daerah pengirim utama prostitusi.

Sulistyo Budiarto menyebutkan Indramayu sejak zaman kerajaan terkenal dengan kecantikan perempuannya.

Raja-raja Cirebon selalu menjadikan perempuan asal Indramayu sebagai selirnya.

Beberapa kecamatan yang menjadi sumber pengirim bagi prostitusi di Jakarta yakni Gabus Wetan, Cikedung, Karang Ampel, Jatibarang, Kandanghaur dan Losarang.

Budiarto merujuk dari sebuah penelitian sebelumnya, masyarakat Indramayu sangat toleran dengan praktik prostitusi.

“Para orang tua dengan sengaja menyarankan anak–anak perempuan mereka untuk menjadi pekerja seks melalui para agen atau germo yang berkeliling di desa,” tulis Budi.

Sebuah laporan investigasi yang ditemukan oleh Budi, salah seorang anak perempuan memilih luru duit sebagai profesi atas kesadaran sendiri.

Si anak sengaja melakukan ini karena menurutnya ia harus patuh terhadap orang tuanya.

Luru duit diambil dari bahasa Jawa yang artinya cari duit.

Budi merujuk pada seorang ahli, luru duit menjadi kebiasaan yang sudah diwariskan turun-temurun sampai sekarang.

Tujuannya tentu untuk mencari kekayaan materiil yang disimbolkan dengan kelimpahan materi.