Pendidikan Indonesia Perlu Berkaca pada Ajaran Luhur Ki Hadjar Dewantara

160
Sebetulnya reformasi pendidikan sudah ada sejak zaman dulu, saat Taman Siswa masih berjaya. Foto: Elshinta
Sebetulnya reformasi pendidikan sudah ada sejak zaman dulu, saat Taman Siswa masih berjaya. Foto: Elshinta

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Sistem pendidikan nasional saat ini dinilai cenderung memaksa anak patuh pada guru, berorientasi nilai, dan mengutamakan kompetisi, sehingga jauh dari ajaran luhur Ki Hadjar Dewantara (KHD).

Demikian yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus Dwi Koranto, M.Sc, selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Keluarga Besar Taman Siswa (PP PKBTS) kepada KAGAMA belum lama ini.

Demikian halnya, salah satu anggota Majelis Luhur Taman Siswa, Ki Priyo Dwiyarso mengatakan pendidikan sejatinya membiarkan anak tumbuh sendiri.

“Sekolah ibarat taman, belum saatnya berbunga, jangan dipaksa untuk berbunga. Ini sama saja menyalahi kodratullah. Anak harus tumbuh sesuai dengan reformasi pendidikan,” jelas pria kelahiran 72 tahun lalu itu.

Priyo kemudian menyebutkan konsep pendidikan KHD berorientasi pada gerakan emic (pendekatan budaya).

Banyak orang menyebut KHD sebagai pakar emic dunia.

Belajar pada Finlandia

Agus dan Priyo berkaca pada pendidikan di Finlandia.

Konsep pendidikan di Finlandia mempunyai kemiripan dengan ajaran luhur KHD.

Kini negara tersebut menjuarai mutu pendidikan dunia.

“Dibandingkan dengan Jepang dan Finlandia, pendidikan di Indonesia memberikan materi pelajaran yang relatif sulit. Untuk itu, revitalisasi pendidikan KHD begitu penting, karena ajaran-ajaran luhurnya berbasis jati diri bangsa dan kodrat alam, sehingga anak senang belajar dengan sendirinya,” jelas Agus.

 

Baca juga:

Ingin Wujudkan Ajaran Luhur Ki Hadjar Dewantara

Reformulasi Konsep Ajaran Luhur Ki Hadjar Dewantara untuk Pendidikan Nasional