Nostalgia Ospek UGM Era 90-an, Tugas-tugas yang Aneh dan Penuh Kode

800
Ilustrasi: Ospek Fakultas Kehutanan UGM TAHUN 1993. Foto: fkt93.blogspot.com
Ilustrasi: Ospek Fakultas Kehutanan UGM TAHUN 1993. Foto: fkt93.blogspot.com

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK), sejak dulu menjadi ritual wajib bagi calon mahasiswa baru UGM.

Seiring dengan perkembangan zaman, pelaksanaan ospek sudah mengalami banyak perubahan. Mulai dari istilah hingga mekanisme pelaksanaannya.

Istilah ospek saat ini sudah tidak lagi digunakan dan mulai berganti nama menjadi Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru (PPSMB) pada tahun 2012.

Beberapa alumnus UGM khususnya di era 90-an, menceritakan nostalgia mereka dalam kegiatan ospek pada zaman itu.

Setiap alumnus memiliki kenangan, kesan, dan pemaknaan yang sama. Namun, ada pula yang memiliki kesan berbeda dalam hal tertentu.

Jalani dengan Santai Kegiatan yang Menguras Tenaga

Dr. Rika Harini, S.Si, MP, saat menjadi mahasiswa baru Fakultas Geografi pada 1991 merasakan suka dan duka dalm kegiatan ospek.

Bila dibandingkan dengan sekarang, kata Rika ospek pada masa itu tidak mudah dijalani.

Ia mengaku merasa kewalahan kala itu, karena dalam ospek banyak kegiatan yang menguras tenaga.

“Ada kegiatan fisik kalau zaman saya, misalnya dihukum suruh push up. Kalau sekarang seperti itu mungkin sudah dibilang ‘berlebihan’. Namun, kalau zaman saya dulu, masih dipertanyakan apakah itu bisa dibilang berlebihan atau tidak. Nyatanya mahasiswa saat itu menganggapnya bercanda dan tidak ada dendam di antara kami. Tetapi, ya itu kembali lagi sama pandangan masing-masing orang,” ungkap dosen Geografi itu kepada KAGAMA, belum lama ini.

Lanjut Rika bercerita, ospek selain sebagai ajang pengenalan kampus, juga dianggap sebagai sesuatu yang menghibur.

Baca juga: Plontjo dan Plontji dalam Penyambutan Mahasiswa Baru UGM Tahun 50-an

“Kalau istilahnya orang Jawa itu ya waktu ospek itu rekasa. Tetapi, mahasiswa menganggapnya santai. Kalau dapat hukuman ya jalani saja,” tandas perempuan kelahiran 46 tahun lalu ini.

Cerita yang sama juga menjadi nostalgia Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si, alumnus Fakultas Psikologi angkatan 1992.

“Kalau datang telat, mahasiswa suruh push up. Ya enggak ada kekerasan fisik sih sebetulnya,” ungkap Ampuni.

Saat itu, Ampuni merupakan salah satu mahasiswa yang disiplin, sehingga tak pernah dihukum.

Begitu juga dengan Dr. Widyanto Dwi Nugroho, S.Hut., M.Agr., alumnus Fakultas Kehutanan angkatan 1996.

Baca juga: Lima Momen yang Meninggalkan Kesan Mendalam Selama Kuliah di UGM

Ia merasa nyaman-nyaman saja dengan berbagai kegiatan ospek pada saat itu.

“Misalnya disuruh push up ya push up. Pada saat itu, saya menganggap bahwa ospek dengan model seperti itu sudah selumrahnya,” ujar Widy.

Diakui Widy, ospek bukan sesuatu yang spesial. Ia melihat ini sesuatu yang biasa, karena semua mahasiswa juga mengalaminya.

“Saya wong ndesa, wis biasa rekasa. Disuruh push up juga saya berani. Di lingkungan rumah, di desa saya biasa manjat pohon. Jadi, bila ada kegiatan fisik di kampus juga sudah terbiasa,” ungkap dosen Fakultas Kehutanan itu.

Pria asal Gunungkidul itu menanggapi segala sesuatunya dengan santai dan hanya sebagai candaan.

Misalnya, ketika dimarahi oleh kakak tingkat. Ia menganggap tekanan-tekanan tersebut sebagai sandiwara yang lucu.

“Saya rileks saja waktu itu. Disuruh ini itu ya nurut saja,” jelasnya.

Baca juga: Memilih UKM yang Tepat Bagi Mahasiswa Baru