KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Jazz bagi seorang A. Tony Prasetiantono, M.Sc., Ph.D. adalah musik yang memberi banyak kebebasan. Berbeda dengan genre pop, jazz bisa dimainkan “semau”-nya. Musisinya bebas melakukan improvisasi.

Menurut Tony, itulah kehebatan jazz. Butuh kreativitas, imajinasi. Menurutnya, pintar saja tidak cukup.Tetapi api harus punya kreativitas dan imajinasi dan itu terekspresikan dalam musik jazz.

“Akhirnya, jazz cocok untuk kalangan kampus karena ada kreativitas, imajinasi,” ungkap Tony di sela-sela menjamu Peabo Bryson dan his full band di rumahnya kompeks Pesona Merapi, Sleman, Desember 2016 lalu.

Perhelatan tahunan Economics Jazz Live sudah berjalan sejak 1987. Bermula dari kesamaan hobi pada musik jazz. Saat itu A Tony Prasetiantono bersama Anggito Abimanyu serta beberapa kawannya satu fakultas di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM.

Tony (paling kiri) di sela-sela menjamu Peabo Bryson dan his full band di rumahnya kompeks Pesona Merapi, Sleman, Desember 2016 lalu.(Foto: Fajar)
Tony (paling kiri) di sela-sela menjamu Peabo Bryson dan his full band di rumahnya kompeks Pesona Merapi, Sleman, Desember 2016 lalu.(Foto: Fajar)

Akhirnya, mereka bersepakat menggelar event Economics Jazz Live (EJL). Pergelaran pertama dipentaskan pada 16 November 1987 di Sporthall Kridosono, Yogyakarta.

“Waktu itu kita masih mengundang grup lokal tapi yang ngetop saat itu. Ada Karimata dan Ruth Sahanaya serta Embong Raharjo. Bagus sebenarnya tapi karena kami tak punya pengalaman, nekat, akhirnya rugi,” kisah Ekonom UGM ini.

Tony yang pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik di UGM bercerita, modal awal saat mengadakan konser musik Jazz saat itu adalah Rp20 juta. Tetapi uang yang kembali hanya Rp15 juta.

“Jadi, nombok. Seingat saya harga motor saat itu Rp1 juta. Jadi, senilai lima motor,” kenang Tony yang meraih Master of Science dari University of Pennsylvania, Philadelphia, Amerika Serikat dan gelar Doktor dari Australian National University, Canberra.