Membaca Sejarah Tradisi “Berzanjen” di Banyuwangi

63
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi agenda yang spesial bagi masyarakat Islam di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Foto: lifestyle.okezone.com
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi agenda yang spesial bagi masyarakat Islam di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Foto: lifestyle.okezone.com

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi merupakan momen yang disambut dengan gegap gempita oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Beragam cara dilakukan untuk mewujudkan rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi, melalui perayaan yang jatuh tiap 12 Rabi’ul awal pada kalender hijriyah.

Salah satunya adalah tradisi melantunkan teks Al-Barzanji yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Hasim Ashari membabar tradisi ini dalam Jurnal Kawistara yang diterbitkan Fakultas Ilmu Budaya  UGM pada tahun 2012.

Judul penelitian Hasim adalah Tradisi “Berzanjen” Masyarakat Banyuwangi Kajian Resepsi Sastra terhadap teks Al-Barzanji.

Baca juga: Kisah Kerbau Vaksin Dokter Sardjito Menembus Perang Revolusi Kemerdekaan

Mengutip seorang pakar, Hasim menyatakan bahwa teks Al-Barzanji merujuk pada nama pengarangnya yakni Ja’far Al-Barzanji Ibn Abdul Rasul.

Judul asli teks ini adalah Iqd Al-Jawahir yang bermakna Kalung Permata.

Adapun penamaan Al-Barzanji diambil dari tempat asal keturunannya yaitu daerah Barzanj, sebuah desa di wilayah Syahrazur, Irak.

Bentuk teks Al-Barzanji pada mulanya adalah prosa, tetapi pada kemudian hari penyair-penyair mengubahnya menjadi puisi.

Teks Al-Barzaji dalam bentuk prosa terdiri atas 19 pasal dengan 359 lirik.

Baca juga: Wayang Melakonkan Identitas Diri Penggemarnya