Masjid Kampus UGM, Tanda Reformasi Total Pemimpin Masa Depan

224
Terdapat alasan tersendiri mengapa 1998 dipilih sebagai tahun pembangunan Masjid Kampus UGM. Foto: Tomy Rock Indrawan
Terdapat alasan tersendiri mengapa 1998 dipilih sebagai tahun pembangunan Masjid Kampus UGM. Foto: Tomy Rock Indrawan

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Senin, 20 Juli 1998, menjadi hari yang bersejarah bagi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Mengutip Berita KAGAMA edisi Mei 1998, pada hari itu, masjid yang sudah lama ditunggu-tunggu publik Bulaksumur mulai dibangun.

Rektor UGM kala itu, Prof. Dr. Ichlasul Amal, M.A., pun mengayunkan cangkul sambil mengucap “Allahu Akbar” sebanyak tiga kali, pertanda bahwa Masjid Kampus (Maskam) UGM mulai dibangun.

Pembacaan ayat suci Alquran beserta doa yang dipimpin Ir. Fachrurrozi juga telah dilakukan sebelum penggalian fondasi mulai dikerjakan.

Rektor, dalam kalimat sambutan menyatakan, semestinya pembangunan masjid ditunda mengingat krisis moneter 1998 tengah melanda Indonesia.

Namun demikian, dia menilai, momentum reformasi yang melekat pada UGM mengilhami realisasi pembangunan Maskam secepatnya.

“Semangat reformasi total pada akhirnya harus bersentuhan dengan penataan mental spiritual yang menjadi landasan dasar bagi mahasiswa sebagai pemimpin di masa depan,” ucap Prof. Ichlasul.

Baca juga: Berbagai Ide Bisnis Jelang Natal dan Tahun Baru

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM ini menambahkan, pada usianya yang hampir setengah abad, UGM patut dibuatkan suatu tanda yang dapat mengingatkan seluruh sivitas akan pentingnya akhlakul karimah sebagai nilai dasar dalam ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat kampus.

Perencanaan

Mengutip laman Maskam UGM, gagasan pembangunan masjid timbul setelah Gelanggang Mahasiswa makin lama makin tidak memadai untuk menampung kegiataan keagamaan Islam.

Sebab, kegiatan kemahasiswaan yang lain juga bertempat serupa.

Alhasil, Rektor UGM periode 1986 – 1990, Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, S.H, M.L., berinisiatif untuk membangun Maskam

Maskam UGM dibangun dengan dikelilingi fasilitas penunjang seperti tempat wudhu, kelas, sekretariat, perpustakaan, lanskap, ruang parkir, sera menara.

Bangunan induk mengisi tanah seluas 3000 meter persegi.

Perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk bangunan utama mencapai 6 miliar rupiah.

Maskam UGM direncakanan selesai dibangun pada Dies Natalis ke-50 pada 1999 dan dapat menampung hingga 6.000 jamaah.

Baca juga: Peringati Dies Natalis ke-70 UGM, Kagama Pemalang Gelar Donor Darah