“Mungkin karena arahan dari guru musik kali ya,” ungkapnya kepada KAGAMA, Jumat (20/10). Saat SMP, guru musiknya di SMP Stella Duce yang juga merupakan dosen musik di ISI perlahan mengarahkan Mahesa untuk mengenal musik jazz.

Sempat menjadi juara I untuk lomba Yamaha Drum pada sekitar tahun 2009, Mahesa sudah enggan berlomba solo drum. Saat itu ia masih duduk di kelas 2 SMP. “Bosen rasanya. Sehari bisa 6 jam latihan lagu yang sama. Cuma istirahat bentar-bentar,” kenangnya.

Idang Rasjidi menjadi salah satu orang penting yang mendorongnya bermain di panggung-panggung musik jazz besar di Indonesia. (Foto: Mahesa)
Idang Rasjidi menjadi salah satu orang penting yang mendorongnya bermain di panggung-panggung musik jazz besar di Indonesia. (Foto: Mahesa)

Untuk itu mulailah ia berlomba dalam grup dan menikmati dinamika bermain musik bersama grup. Sejak kelas 3 SMP-pun bersama dengan guru musiknya ia sudah menjadi pemain musik reguler di beberapa cafe dan hotel, seperti Hotel Saphir.

Tidak hanya itu, bersama dengan kedua kakaknya, Pratama Santoso Utomo yang bermain piano dan Bramantia Santoso Utomo yang bermain kontra bass, Mahesa sempat membuat grup keluarga dengan aliran jazz klasik. Namun karena kesibukan masing-masing, terutama salah satu kakaknya yang berkuliah menjadi dokter, grup keluarga ini pun tidak bertahan lama.